PENGAMATAN KEPADATAN SERABUT KOLAGEN PADA PROSES PENYEMBUHAN LUKA GINGIVA TIKUS Spraque dawley

PENGAMATAN KEPADATAN SERABUT KOLAGEN PADA PROSES PENYEMBUHAN LUKA GINGIVA TIKUS Spraque dawley
Mawar Putri Julica
07/250270/KG/08134
Laboratorium Biologi Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Intisari
Penyembuhan luka melibatkan tiga fase yang saling bergantung. pemodelan kembali dan penyembuhan jaringan penghubung di periodontium simultan melibatkan sintesis dan degradasi kolagen fibril. Buah adas (Foeniculum vulgare Mill.) Digunakan sebagai obat tradisional dan mengandung anti-inflamasi dan antioksidan yang semuanya pengaruh dalam penyembuhan luka. Tujuan percobaan ini adalah untuk mengamati kepadatan serat kolagen dalam penyembuhan luka gingiva tikus Spraque dawley setelah aplikasi topikal ekstrak adas 50%. Pada percobaan ini dua kelompok sampel dilakukan. Satu kelompok sampel kontrol 3, 7, 14, dan 21 hari. Kelompok lain adalah sampel dengan administrasi topikal ekstrak adas 50%. Dari kontrol sampel, kriteria kepadatan serat kolagen diputuskan oleh skor dari 1 sampai 3. Setiap sampel diamati oleh mikroskop. Kemudian, kerapatan serat kolagen dinilai dan dirata-rata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kepadatan serat kolagen dalam sampel kontrol hari pertama, ketiga, kelima, ketujuh, kesepuluh dan keempat belas adalah 1,23, 1,4, 1,5, 1,6, 1.6, dan 1,7 sedangkan kepadatan di sampel ekstrak adas hari pertama, ketiga, kelima, ketujuh, kesepuluh dan keempat belas adalah 1,37, 1,56, 1,56, 1.76, 1.8, dan 2.33. Kesimpulan dari percobaan ini adalah administrasi 50% topikal ekstrak adas mempercepat proses penyembuhan luka dan dipengaruhi kerapatan serat fibroblast dan kolagen.
Keyword(s) : penyembuhan luka, remodeling, kolagen, Adas

PENDAHULUAN
Praktikum ini bertujuan untuk mengamati kepadatan serabut kolagen pada proses penyembuhan luka gingiva tikus (Spraque dawley) setelah pemberian topical ekstrak tanaman buah adas (Foeniculum vulgare mill.).
Proses penyembuhan luka sendiri bukan merupakan proses linier sederhana, tetapi merupakan suatu proses yang kompleks namun sistematik. Lebih lanjut dikatakan proses penyembuhan luka merupakan proses yang kompleks dan melibatkan interaksi berbagai jenis sel dan mediator-mediator biokimia. Oleh karena itu proses penyembuhan luka tidak terbatas pada proses-proses regenerasi lokal tapi merupakan kondisi keseluruhan yang melibatkan faktor-faktor endogen seperti umur, nutrisi, pengobatan, status imunologis, kondisi metabolik dan sebagainya.1,2. Vitamin A dapat membantu proses epitelisasi, atau penutupan luka dan sintesis kolagen3
Tubuh secara normal akan berespon terhadap cedera dengan jalan proses peradangan, yang dikarakteristikkan dengan lima tanda utama: bengkak (swelling), kemerahan (redness), panas (heat), Nyeri (pain) dan kerusakan fungsi (impaired function). Proses penyembuhannya mencakup beberapa fase, meliputi : hemostasis, inflamasi, proliferasi atau granulasi, dan remodeling atau maturasi.4,5 Secara umum penyembuhan luka terdiri dari tiga fase;

1. Fase Inflamasi
Fase inflamasi adalah adanya respon vaskuler dan seluler yang terjadi akibat perlukaan yang terjadi pada jaringan lunak. Respon inflamasi ditandai dengan timbunan sel polimorfonuklear (PMN) yaitu neutrofil, disekitar jaringan inflamasi . Fase ini dimulai dari hari 1 – 4 setelah perlukaan. Secara klinis fase inflamasi ini ditandai dengan : eritema, hangat pada kulit, oedema dan rasa sakit yang berlangsung sampai hari ke-3 atau hari ke-4. Pada awal fase ini kerusakan pembuluh darah akan menyebabkan keluarnya platelet yang berfungsi sebagai hemostasis. Platelet akan menutupi vaskuler yang terbuka (clot) dan juga mengeluarkan “substansi vasokonstriksi. Selanjutnya terjadi penempelan endotel yang akan menutup pembuluh darah.4
2. Fase Proliferatif
Sesudah terjadi luka, fibroblas akan aktif bergerak luka ke dalam daerah luka, kemudian akan berproliferasi serta mengeluarkan beberapa substansi kolagen, elastin, fibronectin dan proteoglycans yang berperan dalam rekontruksi jaringan baru. Fungsi kolagen yang lebih spesifik adalah membentuk calon jaringan baru (connective tissue matrix) dan dengan dikeluarkannya substrat oleh fibroblas, memberikan pertanda bahwa makrofag, pembuluh darah baru dan juga fibroblas sebagai kesatuan unit dapat memasuki kawasan luka. Sejumlah sel dan pembuluh darah baru yang tertanam didalam jaringan baru tersebut disebut sebagai jaringan “granulasi”. Tahapan granulasi terjadi kurang-lebih pada hari ke-4 sampai ke-21 (tergantung ukuran luka). Jendalan darah yang terbentuk pada tahapan sebelumnya akan digantikan oleh jaringan granulasi. Kemudian luka terisi fibroblast yang dan luka pun menutup3.
Fibroblast mensintesis kolagen yang merupakan matrik penting dalam proses regenerasi luka, serta metabolisme dan proses pemeliharaan jaringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fibroblas di zona luka menunjukan kegiatan fagositik kolagen yang tinggi, dan menunjukkan bahwa fibroblas memiliki peran mendasar dalam remodelling kolagen dalam perbaikan luka in vitro. Hal ini pada sistem eksperimental vitro juga disarankan sebagai model yang berguna untuk analisis remodelling kolagen dalam penyembuhan luka-oleh fibroblast.6 Tahapan selanjutnya adalah angiogenesis dan epitelialisasi2. Fase proliferasi akan berakhir jika epitel dermis dan lapisan kolagen telah terbentuk, terlihat proses kontraksi dan akan dipercepat oleh berbagai growth faktor yang dibentuk oleh makrofag dan platelet.
3. Fase Maturasi
Fase ini dimulai pada minggu ke-3 dan berakhir sampai kurang lebih 12 bulan. Tujuan dari fase ini; menyempurnakan terbentuknya jaringan baru menjadi jaringan penyembuhan yang kuat dan bermutu. Fibroblas sudah mulai meninggalkan jaringan granulasi. Untuk mencapai penyembuhan yang optimal diperlukan keseimbangan antara kolagen yang diproduksi dengan yang dipecahkan. Pada tahapan ini, sel granulasi akan digantikan oleh jaringan ikat yang baru dan pembuluh darah baru melalui proses degradasi dan apoptosis. Jika regenerasi tidak dimungkinkan, maka yang terjadi adalah pembentukan jaringan parut. Pada proses remodeling ini, hampir 70% kekuatan asli jaringan akan kembali pulih3.Kolagen yang berlebihan akan terjadi penebalan jaringan parut atau hypertrophic scar, sebaliknya produksi yang berkurang akan menurunkan kekuatan jaringan parut dan luka akan selalu terbuka.
Pada proses ginggivektomi, jaringan klinis dapat kembali menyerupai ginggiva normal dalam beberapa minggu, serta membutuhkan waktu beberapa bulan untuk melengkapi penyembuhan dan organisasi dari bundel serat7
Proses penyembuhan luka tidak hanya terbatas pada proses-proses regenerasi lokal, tetapi merupakan kondisi keseluruhan yang melibatkan faktor-faktor endogen yang salah satunya adalah pengobatan. Sebuah studi tahun 2004 menemukan bahwa biji adas mengandung anti-inflamasi, mengurangi rasa sakit (analgesik) dan antioksidan yang semuanya akan membantu dalam penyembuhan eksim.8 Adas (Foeniculum vulgare Mill.) merupakan salah satu tanaman obat dari Familia Apiaccae (Umbelliferae).9 Hasil penelitian menunjukkan daun dan biji Foeniculum vulgare mengandung flavonoid, saponin, protein, asam amino dan lemak. Daun mengandung flavonoid konsentrasi yang lebih tinggi . Sedangkan tingkat saponin, protein, asam amino dan senyawa organik lain yang tinggi di biji.10 pada tunasnya memiliki kandungan flavonoid dan antioksidan tertinggi.11Selain itu, adas juga mengandung asam askorbat yang berperan penting dalam mengaktifkan enzim prolil hidroksilase yang menunjang tahapan hidroksilasi dalam pembentukan hidroksiprolin, suatu unsur integral kolagen. Sehingga asam askorbat ini berperan penting dalam proses penyembuhan luka.
BAHAN DAN CARA
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ‘Kepadatan Serat Kolagen’ adalah mikroskop, preparat kontrol gingiva tikus (Sparaque dawley) hari ke-1, 3, 5, 7, 10 dan 14, serta preparat gingiva tikus yang telah diberi perlakuan dengan ekstrak buah adas 50% hari ke-1, 3, 5, 7, 10 dan 14.
Praktikum kali ini dilakukan dengan menghitung skor kepadatan serat kolagen masing-masing preparat yang telah disediakan. Pertama, dengan menggunakan mikroskop perbesaran 40x dari preparat kontrol diambil gambar untuk menentukan kriteria kepadatan serat kolagen. Kepadatan serat kolagen yang tipis diberi nilai satu. Kepadatan serat kolagen yang sedang diberi nilai 2, dan kepadatan serat kolagen yang padat sekali diberi nilai 3. Kemudian masing-masing preparat diamati dengan mikroskop perbesaran 40x dan kepadatan serat kolagennya diberi nilai. Masing-masing preparat diamati sebanyak 10 lapang pandang. Masing-masing preparat dilihat oleh 3 praktikan yang berbeda kemudian jumlah kepadatan serat kolagen dihitung dan dirata-rata.
HASIL PERCOBAAN
Tabel 1. Preparat kontrol hari ke-14
Gambar 1
Kepadatan serabut kolagen nilai 1
Gambar 2
Kepadatan serabut kolagen nilai 2
Gambar 3
Kepadatan serabut kolagen nilai 3

Tabel 2. Rata-rata skor kepadatan serabut kolagen
preparat kontroldan preparat yang diberi perlakuan
PREPARAT RERATA KEPADATAN SERAT KOLAGEN
KONTROL PERLAKUAN ADAS 50%
Hari ke-1 1,23 1,37
Hari ke-3 1,4 1,56
Hari ke-5 1,5 1,56
Hari ke-7 1,6 1,76
Hari ke-10 1,6 1,8
Hari ke-14 1,7 2,33

Grafik 1. Rata-rata skor kepadatan serabut kolagen
preparat kontroldan preparat yang diberi perlakuan
PEMBAHASAN
Dalam proses penyembuhan luka selain faktor¬faktor pertumbuhan mengatur migrasi, proliferasi dan diferensiasi sel, juga terjadi sintesis dan degradasi protein matriks ekstrasel. Matriks ekstrasel secara langsung mempengaruhi peristiwa selular dan memodulasi sel yang berespon terhadap faktor pertumbuhan. Komponen utama protein matriks ekstrasel adalah kolagen. Kolagen memberikan kekuatan dan integritas untuk seluruh jaringan tubuh. Demikian pula, kekuatan dan integritas seluruh perbaikan jaringan dipercayakan pada ikatan silang dan deposisi kolagen. Berbagai keadaan dapat menghambat perkembangan integritas dan kekuatan luka disebabkan oleh berkurangnya produksi kolagen. sebaliknya juga terdapat faktor-faktor yang mendorong sintesis kolagen.2
Penyembuhan setelah eksisi ginggiva pada gingivectomy, pembentukan clot dan fibrin terjadi diatas jaringan ikat yang terbuka, dalam beberapa jam jaringan ikat memulai produksi jaringan granulasi “buds”. Proliferasi jaringan ikat ditandai dengan meningkatnya aktivitas mitosis fibroblas, sel endotelial, kapiler darah dan sel mesenkim yang tidak terdiferensiasi. Selanjutnya bagian ini akan ditutupi dan diinfiltrasi oleh neutrofil. Penyembuhan luka terdiri dari permukaan dasar jaringan ikat yang sedang meradang, ditutup oleh jaringan granulasi kemudian zona neutrofil yang berlapis dan akhirnya clot. Epitel mulai berproliferasai di pinggiran luka dan bermigrasi sel per sel (sekitar 0,5 mm per hari) di bawah clot, melewati zona neutrofil dan diatas jaringan granulasi. Ephitelum terus berkembang biak dalam lapisan tipis sampai mencapai permukaan gigi. Sementara hal ini terjadi, fibroblas dijaringan granulasi mulai memproduksi kolagen yang belum matang serta yang belum berpolimerisasi sempurna. pada titik ini clot mengelupas, setelah berfungsi secara biologis sebagai perban. proliferasi dan maturasi kolagen dan epitel terus berlangsung sampai terbentuk kolagen matang yang menutupi permukaan atas epithelium.7
Secara umum pada preparat kontrol mengalami kenaikan skor kepadatan kolagen yang cukup signifikan. Pada saat hari ke-1 dan ke-3, skor kepadatan kolagen peparat kontrol masih rendah namun terlihat adanya peningkatan sebab proses penyembuhan baru sampai pada tahap inflamasi sehingga serabut kolagen yang terbentuk masih sedikit. Kemudian pada hari ke 5 sampai 14, preparat kontrol menunjukkan adanya peningkatan skor kepadatan serabut kolagen, karena pada hari ke-4 proses penyembuhan luka sudah memasuki tahap proliferasi yang ditandai dengan pembentukan jaringan granulasi..
Pada preparat dengan perlakuan, rerata skor kepadatan kolagennya lebih banyak daripada preparat kontrol. Pada sebuah penelitian skor kepadatan kolagen terlihat memuncak pada hari ke-7, selanjutnya skor kepadatan kolagen pada preparat dengan perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan perparat kontrolnya. Hal ini dikarenakan proses penyembuhan luka telah memasuki fase remodeling. Pada fase remodeling ini, terjadi sintesis dan degradasi kolagen secara simultan,sehingga jumlah kolagen yang terlihat tidak sebanyak fase sebelumnya. 12 Namun, hasil praktikum yang didapatkan tidak sesuai dengan pernyataan tersebut. Dari tabel hasil yang terlihat adalah adanya peningkat dari awal hingga hari ke-14. Kemungkinan terjadi kesalahan hitung seperti sebelumnya karena praktikan sempat mengulang perhitungan, yang disebabkan ada beberapa preparat yang telah pecah sehingga gambaran mikroskopis tidak terlalu jelas, Selain itu, praktikan masih mengalami kesusahan dalam menilai kepadatan kolagen meskipun diawal praktikum telah menyamakan persepsi. Seharusnya, penurunan skor kepadatan kolagen pada preparat perlakuan terjadi setelah hari ke-7 karena kandungan buah adas (saponin, flavonoid dan asam askorbat) mampu menstimulasi biosintesa kolagen yang menyebabkan proses penyembuhan luka menjadi lebih cepat daripada biasanya. sehingga, seharusnya preparat perlakuan pada hari ke-10 dan 14 telah memasuki tahapan remodeling sehingga skor kepadatan kolagennya tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan perparat kontrolnya.
Dibandingkan dengan kontrolnya, bisa dilihat juga bahwa preparat gingiva tikus yang diberi perlakuan dengan ekstrak buah adas 50% ternyata memperlihatkan serabut kolagen yang lebih padat. Hal ini sudah sesuai dengan penelitian yang menyatakan bahwa ekstrak adas dapat mempercepat proses penyembuhan luka.12 Adas mengandung anti-inflamasi, mengurangi rasa sakit (analgesik) dan antioksidan.8 Beberapa kandungan buah Adas dapat mempercepat proses penyembuhan luka, misalnya saja efek saponin pada peningkatan metabolisme matriks ekstraseluler, serta aktivasi dan sintesis TGF-β yang menstimulasi biosintesis kolagen.13 Selanjutnya, proses radang dipersingkat oleh efek antiradang dari flavonoid dan saponin sehingga penyembuhan masuk ke tahap proliferasi lebih cepat. Kandungan asam askorbat pada buah adas ternyata mampu mempercepat sintesis kolagen pada fase proliferasi, sehingga proses penyembuhan luka memasuki tahap remodeling lebih awal. Sebelumnya telah disebutkan bahwa proses penyembuhan luka tidak hanya terbatas pada proses-proses regenerasi lokal, tetapi merupakan kondisi keseluruhan yang melibatkan faktor-faktor endogen yang salah satunya adalah pengobatan1. Hal tersebut semakin menguatkan bahwa serabut kolagen yang merupakan indikator penyembuhan luka, akan terlihat lebih padat pada preparat yang mendapat perlakuan (ekstrak buah adas 50%) dibandingkan dengan kontrolnya.
KESIMPULAN
Pemberian ekstrak buah adas konsentrasi 50% terbukti dapat mempercepat proses penyembuhan luka gingiva. Hal ini ditunjukkan dengan terjadinya fase remodeling yang lebih cepat (hari ke-7) dibanding kontrolnya (hari ke-14) dan meningkatnya kepadatan serabut kolagen dalam jaringan.

DAFTAR PUSTAKA

1Hermanto, Eddy & Taufiqurrahman, Irham. Manfaat terapi oksigen hiperbarik dalam mempercepat proses penyembuhan luka. Downloaded from http://www.pdgi-online.com/v2/index.php?option=com_content&task=view&id=732 .Diakses tgl 4 Oktober 2009
2 Kalangi, Sonny JR. Peran Kolagen Pada penyembuhan Luka. Dexa Media. 2004; (17): 4
3Alimul, A.A.2008.Ketrampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan edisi 2.Jakarta: Salemba Medika.
4Cotran, R.S., Kumar, V., Robbins, S.L. 1997. Basic pathology, 6th Ed. Michigan: W.B. Saunders Co.
5Fishman,Tamara.D. 1995. Phases of Wound Healing. Downloaded from http://www.medicaledu.com/phases.htm diakses tgl 3 Oktober 2009
6Yajima, T. 1988. Collagen Remodelling In Wound Healing by Gingival Fibroblasts in Vitro. Adv Dent Res.1988; 2(2):228-233
7Vernino, A.R., Gray, J., Hughes, E.. 2007. The Periodontic Syllabus, 5th Edition
Philadelpia: Lippincott Williams & Wilkins.
8Choi, Eun-Mi and Hwang, Jae-Kwan. Anti-inflammatory, analgesic and antioxidant activities of the fruit of Foeniculum vulgare.Fitoterapia. 2004 ;75(6):557-65
9Sentra informasi IPTEK.2005.Tanaman Obat Indonesia. Downloaded From Http://Www.Iptek.Net.Id/Ind/Pd_Tanobat/View.Php?Mnu=2&Id=106 Diakses tanggal 5 Oktober 2009
10Gulfraz, M., M. Arshad, N. Uzma, Kanwal and K. Shabir,. 2005. Comparison in Various Bioactive Compounds of Leaves and seed of Foeniculum Vulgare Mill.
11Barros, L., Heleno, S.A., Carvalho ,A.M., and Ferreira, I.C.F.R. Systematic evaluation of the antioxidant potential of different parts of Foeniculum vulgare Mill. from Portugal.
Elseivier, Food and Chemical Toxicology.2009; (47): 2458-2464
12Rachmawati, N. dkk. 2006. Re-Epitelisasi,Kepadatan Fibroblast Dan Serabut Kolagen Pada Proses Penyembuhan Luka Gingiva Labial Tikus Sprague dawley Setelah Pemberian Topikal Ekstrak Buah Adas (Foeniculum vulgare Mill.) 50%.
13Kanzaki, T., Morisaki, N., Shiina, R., Saito, Y. Role of Transforming Growth Factor-β Pathway in the Mechanism of Wound Healing by Saponin from Gingseng Radix rubra. British Journal of Pharmacology. 1998: 125:255-262.

defensive becomes offensive

pernah ga lo ngerasa tercunang di suatu komunitas…trus akibat sikap defensif didiri lo lalu muncul bentuk tindakan offensive, sebagai bentuk kekecewaan lo kepa lingkungan di sekitar lo…ok memang itu natural tapi perlu ketahui ga semua salah yang ada dihidup lo itu karena faktor X…coba lo llihat dir lo sendiri, apakah lo emang berkompeten dan cukup berkontribusi penuh terhadap lingkungan lo,…jangan selalu lihat salah dari lingkungan dan jangan egois dengan prinsip ke”AKU”an..dan jangan pernah lupa..MULUTmu HARIMAUmu…
calm down!!!

INTRODUKSI IMMUNOBIOLOGI

INTRODUKSI IMUNOBIOLOGI

MAWAR PUTRI JULICA

07/ 250270/ KG/ 08134

Laboratorium Biologi Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Reaksi antigen-antibodi dapat di deteksi dengan reaksi sekunder untuk memvisualisasikan reaksi misalkan presipitasi maupun aglutinasi. Klasifikasi antigen salah satunya bersumber dari alogeneik dengan jenis alloantigen salah satu contohnya adalah golongan darah. Dua jenis penggolongan darah yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Membran sel darah merah pada sebagian besar individu mengandung suatu substansi golongan darah tipe A, tipe B, tipe AB, tipe O. Penggolongan sistem ABO didasarkan pada ada atau tidaknya aglutinasi antara antigen-antibodi yang terdapat dalam darah, sedangkan penggolongan Rh berdasarkan ada  atau tidaknya antigen D. Jika seseorang dengan Rh negatif (tidak mempunyai antigen D) terpajan dengan darah Rh positif (mempunyai antigen D), maka tubuh akan membentuk anti-Rh sehingga menyebabkan aglutinasi.

Untuk melihat adanya aglutinasi, tes yang dilakukan adalah mereaksikan darah sebagai antigen dan larutan anti sera( Anti-A, Anti-B, Anti-C, dan Anti-D). Aglutinasi dapat menunjukkan golongan darah. Sedangkan pada penghitungan jenis leukosit sample darah dibuat sediaan tipis lalu dicat dengan Giemsa 3%. Kemudian sediaan diamati dibawah mikroskop,  dilakukan perhitungan macam jenis leukosit per 100 sel leukosit sepanjang sediaan apus. Hasil penghitungan dilaporkan dalam bentuk persen.

Kedua percobaan tersebut dilakukan pada tiga orang probandus dengan hasil :

  1. Probandus I : golongan darah O, Rh positif, basofil 0%, eosinofil 0%, netrofil 0%, limfosit 75%, monosit 18%
  2. Probandus II: golongan darah O, Rh positif, basofil 2,4%, eosinofil 14,8%, netrofil 54,3%, limfosit 8,6%, monosit 7,4 %
  3. Probandus III: golongan darah O, Rh positif, basofil 10,1%, eosinofil 10,1%, netrofil 43,4%, limfosit 30,4%, monosit 5,7 %

Penghitungan Diffferential Blood Count (DBC) ternyata secara klinis juga sangat membantu dalam diagnosis suatu kondisi patologis. Kenaikan titer salah satu atau beberapa jenis leukosit memberi makna kondisi tertentu yang dapat fisiologis maupun patologis.

Kata kunci : aglutinasi, hitung diferensial leukosit, antigen, antibodi

PENDAHULUAN

Dalam pengertian paling luas , immunologi mengacu pada semua mekanisme pertahanan yang dapat di mobilisasi oleh tubuh untuk memerangi ancaman invasi asing. Respon imun itu hampir seluruhnya diperantarai oleh limfosit B dan limfosit T. Saat terjadi respon imun terhadap benda asing, limfosit B terutama terlibat dalam menghasilkan protein-protein globular yang disebut Antibodi.(Fried, G.H and Fried, G.J., 2006). Imunigenisitas dapat di definisikan sebagai sesuatu zat (immunogen) yang memberikan zat tersebut kemampuan membangkitkan respon imun spesifik baik antibody maupun imunitas seluler. Bagian dari struktur tiga dimensi tiap imunogen mengandung kelompok permukaan misalnya asam amino dalam suatu protein globularatau sisi rantai sakarida yang menonjol pada polisakarida. Struktur ini diberi nama determinan antigenic atau epitop dan menyajikan daerah aktif terpapar, dengan mana antibody menyatu .(Bellanti & Jackson, 1993)

Jika terdapat suatu agen asing yang dapat dikenali oleh system imunitas, maka hal ini dapat memicu produksi molekul protein khusus yang secara umum disebut antibodi. Antibodi sendiri merupakan senjata utama respon humoral. Reseptor sel T yang akan mengenali agensia asing tersebut secara spesifik dan  mengikatnya. Molekul yang dapat dikenali dan diikat oleh reseptor sel T yang disebut antigen (antibody generating surface).(Yuwono,2008)

Interaksi antigen-antibodi dapat dibagi dalam 3 kategori: (1)primer, (2) sekunder,(3) tersier. Interaksi primer atau interaksi awal antigen dengan antibody adalah suatu kejadian dasar yang terdiri dari pengikatan molekul antigen dengan antibody. deteksi biasanya dikerjakan dengan reaksi sekunder, yang merupakan alat bantu untuk memvisualisasikan reaksi, misalnya presipitasi. Reaksi tersier merupakan ekspresi biologik dari interaksi antigen-antibodi yang dapat berguna untuk merusak. Pada Aglutinasi, fase pertama penyatuan antigen-antibodi terjadi seperti pada presipitasi dan tergantung pada kekuatan ion, pH dan suhu. Pada aglutinasi sel darah merah, misalnya dimana reseptor antigenik mungkin terletak pada cekungan yang dalam pada permukaan sel, antibody diikat kuat pada sisi reseptor pada satu sel. (Bellanti, 1993)

Ketika transfusi darah dari orang ke orang, transfusi hanya berhasil baik pada beberapa keadaan. Seringkali timbul aglutinasi dan hemolisis sel darah merah bahkan dapat juga menyebabkan kematian. Ternyata hal itu dikarenakan darah dari orang yang berbeda biasanya mempunyai sifat antigen dan imunitas yang berbeda, sehingga antibodi dalam plasma darah seseorang akan bereaksi dengan antigen pada permukaan sel darah merah orang lain. Karl Landsteiner menggolongkan darah manusia menjadi A, B, AB, dan O. Metode klasifikasi berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang terkandung dalam darahnya. Jenis penggolongan darah lain adalah dengan memanfaatkan faktor Rhesus atau faktor Rh.

Tubuh kita ini mempunyai sistem pertahanan tubuh yang bekerja melalui dua cara. Pertama adalah merusak benda asing yang menyerbu (antigen) dengan cara fagositosis. Kedua, menon-aktifkan benda asing tadi dengan membentuk antibodi spesifik. Proses yang kedua ini telah dicontohkan pada kasus golongan darah yang telah dijelaskan sebelumnya. Sedang untuk proses fagositosis sendiri dilakukan oleh leukosit Ada enam macam sel darah putih yang secara normal ditemukan dalam darah. Netrofil polimorfonuclear, eosinofil polimorfonuclear, basofil polimorfonuclear, merupakan sel-sel yang polimorfonuclear (berinti >1) dan mempunyai gambaran granular, maka disebut sel granulosit. Fungsi utama limfosit dan sel plasma adalah berhubungan dengan sistem imun seseorang. Sel-sel darah putih manusia normalnya berkisar antara 4.000 – 11.000 sel per mikroliter darah . Rentang normal elemen seluler pada darah manusia dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Sel/ mL (rata-rata)

Rentang normal

Presentase WBC

Total WBC

9.000

4000 – 11.000

Granulocytes

Neutrophils

5.400

3.000 – 6.000

50 – 70

Eosinophils

275

150 – 300

1 – 4

Basophils

35

0 – 100

0,4

Lymphocytes

2.750

1.500 – 4.000

20 – 40

Monocytes

540

300 – 600

2 – 8

Erythrocytes

4,8 – 5,4 X 106

Platelets

300.000

200.000 – 500.000

Di antara sel dalam tabel di atas, granulosit (leukosit PMN) yang paling banyak. Granulosit muda mempunyai inti berbentuk seperti tapal kuda yang menjadi multilobulus waktu sel tumbuh menjadi semakin tua. Sebagian besar granulosit mengandung granula yang berwarna dengan zat warna asam (eosinofil) dan sebagian mempunyai granula basofilik (basofil). Dua jenis sel lainnya yang normal ditemukan dalam darah tepi adalah limfosit, yaitu sel dengan inti besar dan bulat dan sedikit sitoplasma, dan monosit, yaitu sel dengan banyak sitoplasma agranuler dan inti berbentuk ginjal.(Ganong, 2001)

Tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa mampu melakukan tes aglutinasi terhadap pemeriksaan golongan darah dan menjelaskan hasilnya, memahami dan mempelajari prosedur pembuatan sediaan sampel darah dengan metode oles (smear methods), serta mengenal beberapa istilah dalam bidang imunobiologi.

BAHAN DAN CARA

Pemeriksaan Golongan Darah ABO dan Rh

A. Alat dan Bahan

1. Gelas obyek

2. Satu set larutan anti sera

a. Serum anti-A, warna biru

b. Serum anti-B, warna kuning

c. Serum anti-AB, tidak berwarna

d. Serum anti-D berisi IgG dan IgM,   tidak berwarna

B. Cara Kerja

1.Menyiapkan gelas obyek dan menandainya dengan empat buah tanda yaitu daerah A, B, AB,dan D.

2.Pada tiap tanda diteteskan darah dari probandus masing-masing satu tetes. Berturut-turut serum anti-A, anti-B, anti-AB, dan anti-D diteteskan pada setiap tetes darah yang ada di atas gelas obyek sesuai dengan tanda yang tertera.

3.Tiap campuran tetes darah dan tetes serum diaduk dengan ujung gelas obyek yang lain.

Identifikasi dan Kuantitatif Sel Leukosit

  1. Alat dan Bahan

1.Darah

2.Gelas obyek

3.Aquades

4.Methyl-alkohol

5.  Cat Giemsa 3%

6.  Mikroskop cahaya

7.Hand tally counter

8.Minyak imersi

9.Lancet

10.Kapas Alkohol

  1. Cara Kerja

v   Pembuatan Sediaan Film Darah Tipis

1.   Menyiapkan dua buah gelas obyek, A dan B.

2.   Meneteskan darah pada sisi kanan gelas obyek A.

3.   Menarik gelas obyek B sedikit ke belakang sehingga tetesan darah dari gelas obyek A tersentuh dan terjadi gaya kapilaritas, sehingga darah tersebar sepanjang sisi gelas obyek B. Antara gelas obyek A dan B dibentuk sudut kira-kira 25o-45o.

4.   Mendorong gelas obyek B ke sisi kiri gelas obyek A dengan mantap dan cepat sehingga terjadi film darah yang tipis. Melakukan pengecatan satu jam setelah pembuatan.

v   Pengecatan

1.   Melakukan fiksasi dengan mencelupkan sediaan dalam wadah yang berisi methyl-alkohol selama 3-4 menit kemudian mengeringkannya dalam suhu ruang.

2.   Menetesi seluruh permukaan sediaan oles dengan cat Giemsa 3% selama 30-40 menit.

3.   Kemudian mencuci sediaan yang telah dicat tersebut dengan aquades dingin dan mengeringkannya pada suhu ruang.

v   Cara Pemeriksaan

Sediaan diamati mulai dari daerah kepala hingga ekor dengan mikroskop pada perbesaran obyektif 10 kali. Bagian yang diamati adalah bagian yang eritrositnya tidak saling menumpuk. Setelah itu meneteskan minyak imersi dan mengamati dengan perbesaran mikroskop 100 kali. Menghitung masing-masing jenis leukosit per 100 sel leukosit, hasil dilaporkan dalam persen.

HASIL PENGAMATAN

Pemeriksaan Golongan Darah ABO dan Rh, serta Identifikasi dan Kuantitatif Sel Leukosit  masing-masing dilakukan terhadap tiga orang probandus. Dari ketiga percobaan tersebut didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel hasil pemeriksaan golongan darah ABO dan Rh

Aglutinasi Terjadi Pada Penilaian Golongan Darah Aglutinasi Terjadi Pada Penilaian

Anti-A

Anti-B

Anti-AB

Anti-D

Rh

Probandus 1

-

-

-

O

+

Positif

Probandus 2

-

-

-

O

+

Positif

Probandus 3

-

-

-

O

+

Positif

hasil praktikum pengetesan golongan darah

hasil praktikum pengetesan golongan darah

Probandus 1 Probandus 2 Probandus 3

Identifikasi leukosit

Macam Sel Probandus 1 Probandus 2 Probandus 3
Basofil 0% 24% 10,1%
Eosinofil 0% 14,8% 10,1%
Netrofil 6% 54,3% 43,4%
Limfosit 75% 8,6% 30,4%
Monosit 18% 7,4% 5,7 %

Keterangan:

*Perhitungan probandus 1 menggunakan perbesaran 1000x

*Probandus 2 dan 3 menggunakan perbesaran 400X

PEMBAHASAN

Kelompok antigen yang memiliki banyak arti klinis adalah kelompok antigen yang dikenal sebagai antigen alogeneik, yaitu antigen yang secara genetic diatur oleh determinan antigenic yang membedakan satu individu spesies tertentu dari individu lain pada spesies yang sama. Pada manusia determinan antigenic semacam ini terdapat pada sel darah merah, contoh alloantigen: ABO, RHo, golongan darah(disebut isoantigen), memiliki fungsi klinik untuk penyakit hemofilik pada neonatus dan reaksi transfusi.(Bellanti & Jackson, 1993)

Penggolongan darah sistem ABO yang kita kenal ditentukan berdasarkan ada atau tidaknya aglutinogen A dan B.Aglutinogen merupakan antigen, disebut juga aglutinogen karena dia mampu menyebabkan reaksi aglutinasi sel darah.  Bila tidak terdapat aglutinogen tipe A dalam sel darah merah seseorang, maka dalam plasmanya akan terbentuk antibodi yang dikenal sebagai aglutinin anti-A. Demikian pula, bila tidak terdapat aglutinogen tipe-B di dalam sel darah merah, maka dalam plasmanya terbentuk antibodi yang dikenal sebagai aglutinin anti-B. Golongan darah O, meskipun tidak mengandung aglutinogen, tetapi mengandung agglutinin anti-A dan anti-B. Golongan darah A mengandung aglutinogen tipe-A dan aglutinin anti-B, sedangkan golongan darah B mengandung aglutinogen tipe-B dan aglutinin anti-A. Golongan darah AB mengandung kedua aglutinogen A dan B, tetapi tidak mengandung aglutinin sama sekali.

Golongan Darah

Aglutinogen

Aglutinin

O

-

Anti-A dan Anti-B

A

A

Anti-B

B

B

Anti-A

AB

A dan B

-

Tabel golongan darah beserta aglutinogen dan aglutininnya

Pemeriksaan Golongan Darah ABO dan Rh pada percobaan kali ini menggunakan sampel darah yang dicampur aglutinin anti-A dan aglutinin anti-B, kemudian diamati sel darah merah yang “teraglutinasi” untuk mengetahui adanya reaksi antibodi-antigen. Dari ketiga probandus, semuanya bergolongan darah O karena saat ditetesi serum anti-A dan anti-B tidak terjadi reaksi aglutinasi. Jika individu memiliki aglutinin Anti-A dan Anti-B ditetesi dengan serum yang sama, maka tidak terjadi ikatan antigen-antibodi yang secara makroskopis dapat diamati dengan reaksi aglutinasi. (Guyton & Hall, 2007)

Bila darah yang tidak cocok dicampur sehingga aglutinin plasma anti-A atau anti-B dicampur dengan sel darah merah yang mengandung aglutinogen A atau B, terjadilah aglutinasi sel darah merah. Terdapat dua tahapan aglutinasi, yang pertama adalah perlekatan molekul antibodi dengan antigen yang tidak terlarut, kedua terjadi pembentukan pola-pola geometris (Sheehan, 1997). Menurut Guyton & Hall (2007), proses aglutinasi diawali oleh aglutinin bivalen atau polivalen yang akan melekatkan diri pada sel darah merah. Karena aglutinin mempunyai dua tempat pengikatan (tipe IgG) atau 10 tempat pengikatan (IgM), maka satu aglutinin dapat melekatkan diri pada dua atau lebih sel darah merah yang berbeda pada waktu yang sama, dengan demikian menyebabkan sel saling mendekat satu sama lain. Keadaan ini menyebabkan sel-sel menggumpal bersama-sama (aglutinasi). Kemudian gumpalan ini menyumbat pembuluh darah kecil di seluruh sistem sirkulasi, dan pada akhirnya terjadi hemolisis sel darah merah.

Seperti yang kita ketahui, karena orang bergolongan darah O tidak mempunyai antigen A dan B, maka dia bisa mendonorkan darahnya kepada resipien lain yang tidak sama golongan darahnya. Itulah sebabnya golongan darah O disebut donor universal. Namun donor darah terkadang juga memberikan efek tertentu, salah satunya adalah menekan fungsi imunitas seseorang sehingga dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap infeksi, tetapi hal ini tidak terjadi secara tetap. Pada tahun 1997, Eaves-Pyles & Alexander mengemukakan bahwa kemampuan dari tranfusi darah untuk meningkatkan kemampuan bakteri untuk menginfeksi bergantung pada faktor genetik seseorang.

Pada hasil uji rhesus, didapatkan hasil bahwa ketiga probandus memiliki rhesus positif ,namun pada probandus ke 2 dibutuhkan dua kali pengetesan untuk anti D baru didapatkan hasil positif, hal ini dimungkinkan karena kesalahan praktikan pada saat pemberian jumlah tetesan anti D pada pengetesan pertama. Seseorang yang mempunyai rhesus positif berarti dia memiliki antigen D, sedangkan seseorang yang tidak memiliki antigen D dikatakan sebagai rhesus negatif. Penyakit yang sering berhubungan dengan rhesus adalah penyakit hemolitik pada janin dan bayi baru lahir, pertama kali dijelaskan pada 1609 dalam rangkaian bayi kembar: bayi pertama adalah hidropik dan lahir mati, dan bayi kedua sangat kuning dan kemudian meninggal yang sekarang kita sebut kernicterus. Pada1932, ditemukan bahwa hydrops dan kernicterus adalah dua aspek dari penyakit yang sama di mana hemolisis sel darah merah janin dan neonatus mengakibatkan extramedullary erythropoiesis, hepatosplenomegali dan pencurahan erythroblasts ke dalam sirkulasi, suatu kondisi yang disebut erythroblastosis fetalis. Kernicterus selanjutnya terbukti karena pengendapan bilirubin dalam otak. (Bowman, 1998). Hemolytic disease pada fetus muncul pada bayi dengan RhD yang positif yang dibawa oleh ibu dengan  RhD negatif yang telah diimunisasi sel darah merah dengan RhD positif melalui transplacental barrier selama periode kehamilan. Antibodi IgG maternal hingga RhD melewati placenta, melapisi dan menghancurkan sel darah merah RhD positif janin.(Lo YMD, et al., 1998). Kasus inkompabilitas RhD tidak hanya membahayakan bayi tetapi juga orang dewasa, khususnya saat melakukan transfusi darah. Orang dengan RhD negatif lebih berisiko karena ketika mereka menerima darah dari orang dengan rhesus positif, antibodinya akan menyerang sel darah merah yang baru masuk tadi. Hal ini dapat menyebabkan aglutinasi dan bahkan kematian. (Anitei, 2008)

Pembahasan selanjutnya mengenai sel darah putih yang merupakan salah satu komponen sistem pertahanan tubuh kita. Leukosit terdiri atas sel fagosit dan sel imunosit. Yang termasuk sel fagosit adalah neutrofil (PMN), eosinofil, basofil, dan monosit. Sedangkan limfosit dan sel plasma termasuk sel imunosit. Pada keadaan normal, perbandingan persentase komponen leukosit adalah : netrofil 62%, eosinofil 2,3%, basofil 0,4%, monosit 5,3%, limfosit 30%. Persentase netrofil akan mengalami peningkatan saat terjadi infeksi bakteri, eosinofil meningkat pada reaksi alergi dan infeksi parasit, sedangkan basofil akan meningkat jumlahnya pada kondisi inflamasi jaringan.( Bregman, 1996).

Penghitungan diferensial leukosit ternyata memberi makna klinis yang signifikan terhadap beberapa kelainan di dalam tubuh. Leukosit memiliki peranan sebagai pertahanan tubuh terhadap berbagai agen toksik dan infeksi. Mekanismenya antara lain dengan menghancurkan agen invasif melalui proses fagositosis dan membentuk antibodi dan limfosit yang disensitifkan. Kenaikan titer salah satu atau beberapa jenis leukosit ternyata memberikan indikasi penyakit tertentu, misalnya apendisitis, terjadi kenaikan leukosit dan netrofil yang cukup signifikan dan berperan dalam proses inflamasi. Bahkan derajat inflamasi apendisitis dapat diketahui dengan jumlah leukosit dan netrofil PMN pasien. (Horng-Ren Yang, et al, 2006). Berbagai keadaan-keadaan yang menyebabkan peningkatan dan penurunan jumlah sel leukosit.

  1. Neutrofil leukositosis

Dikatakan leukositosis apabila jumlah neutrofil berada pada level > 7,5 x 109.  Karakteristik leukositosis:  terjadinya pergeseran ke kiri dari dalam differential white cell count pada apusan darah tepi. ada beberapa penyebab neutrofil leukositosis, yaitu : Infeksi bakteri (bakteri pyogenic), Inflamasi dan nekrosis jaringan, kelainan metabolisme, misal, uremia, asidosis, gout, Neoplasma, hemolisis atau hemorargi akut, terapi kortikosteroid.

  1. Neutropenia

Jumlah neutrofil terendah adalah sekitar 2,5 X 109/l. Ketika level neutrofil absolute mencapai 0,5 X 109/l  menandakan pasien mempunyai infeksi yang sifatnya kambuhan (recurrent) dan pada saat jumlahnya hanya 0,2 X 109/l, menandakan bahwa ada kelainan fungsi tubuh.

(Hoffbrand & Pettit, 1998)

Pada percobaan Identifikasi dan Kuantitatif Sel Leukosit dilakukan penghitungan jenis leukosit per 100 sel leukosit, dan hasilnya diubah dalam persen. Penghitungan pada sampel darah probandus 1 dengan menggunakan perbesaran 1000X didapatkan hasil sebagai berikut : basofil 0%, eosinofil 0%, netrofil 0%, limfosit 75%, monosit 18%. Selanjutnya Probandus II menggunakan perbesaran 400x didapat hasil: basofil 2,4%, eosinofil 14,8%, netrofil 54,3%, limfosit 8,6%, monosit 7,4 %, sedangkan pada probandus III didapat hasil: basofil 10,1%, eosinofil 10,1%, netrofil 43,4%, limfosit 30,4%, monosit 5,7 %. Jumlah eosinofil, basofil dan monosit relatif sedikit pada persentase. Mengingat fungsi utama netrofil adalah fagositosis, sehingga kenaikan netrofil menjadi dalah satu indikator proses inflamasi (peradangan) dan infeksi. Leukosit ini juga memberi respon fagositik dan berperan pada proses peradangan. Secara klinis, eosinofilia terjadi terutama jika terjadi reaksi alergi dan infeksi cacing, sedangkan basofil berperan dengan sel mast dalam melepaskan heparin ke dalam darah sehingga mencegah koagulasi darah.

Hasil yang didapatkan berbeda dengan standar teori yang ada. Kesalahan ini selain disebabkan karena kesalahan pada saat mengidentifikasi, juga dapat dikarenakan terjadinya penghitungan ulang pada wilayah yang sama pada saat mengamati dengan mikroskop. Penggunaan perbesaran mikroskop yang berbeda dalam perhitungan juga bisa menjadi salah satu pemicu perbedaan hasil. Kesalahan lain bisa disebabkan pada saat pembuatan preparat apus, dimana sampel darah yang digunakan terlalu tebal ataupun terlalu tipis sehingga tidak terlihat pada saat pengamatan dengan mikroskop. Kemungkinan terakhir yakni tubuh probandus benar-benar sedang dalam keadaan patologis

KESIMPULAN

Aglutinasi yang terjadi pada pemeriksaan golongan darah menunjukkan adanya interaksi antara antigen-antibodi yang sejenis. Penghitungan diferensial jumlah relatif leukosit berfungsi untuk mengetahui kondisi-kondisi patologis yang secara klinis dapat diketahui dengan pemeriksaan laboratorium.

DAFTAR PUSTAKA

Anitei, Steffan. 2008. The Rh Factor . Softpedia

http://news.softpedia.com/newsPDF/The-Rh-factor-84767.pdf (diakses:24 september 2009)

Bellanti, J.A. & Jackson, A.L. 1993. Imunologi III. Jogjakarta: Gadjahmada University press.

Bowman, J.M., RhD Hemolytic Disease of the Newborn. NEJM.1998 ; (339) : 1775-1777

Bregman, Ronald A., 1996, Histology, W. B. Saunders Company : Philadelphia

Eaves-Pyles, T.,  Alexander, J. W. The Effect of Blood Transfusion on Susceptibility to Bacterial Infection in Genetically Defined Mouse Models. Lippincott Williams & Wilkins. 1997: (43): 894-898

Fried, G.H & Fried, G.J., 2006. Schaum’s Outlines Biologi, edisi kedua. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Ganong, William. F., 2001, Review of Medical Physiology, 20th ed., The Mc. Graw – Hill                         Companies Inc. : Sanfransisco

Guyton, Arthur C & Hall, John E.2007.Fisiologi Kedokteran, edisi 11. Jakarta: EGC.

Hoffbrand, A.V  & Pettit, J.E. 1998. Essential Haematology 3rded. Blackwell Science, Oxford, London

Horng-Ren Yang, Yu Chun Wang, Ping Kuei Shung et al. Laboratory Tests in Patients with Acute Appendicitis. ANZ Journal of Surgery. 2006; 76 (1-2): 71 – 74

Lee, G. Richard.,Foerster, John.,Lukens John., Paraskevas, frixos., Greer, John P., Rodgers, George M. 1999. Wintrobe’s Clinical Hematology 10thed. Williams &Wilkins Company

Lo YMD, Hjelm NM, Fidler C, et al. Prenatal diagnosis of fetal RhD status by molecular analysis of maternal plasma. N Engl J Med 1998;(339):1734-1738.

Mayer, Gene. 2009. Immunoglobulins- Antigen-Antibody Reactions  and Selected  Tests .  University of South Carolina. http://pathmicro.med.sc.edu/mayer/ab-ag-rx.htm

Sheehan, Catherine.1997. Clinical Immunology Principles And Laboratory Diagnosis 2nded. Lipincott: Philadelphia, New York

Yuwono, T. 2008. Biologi Molekular. Jakarta:Erlangga.

song of the day ~ you and me – sabrina (versi asli:lifehouse)

“You And Me”

What day is it? And in what month?
This clock never seemed so alive
I can’t keep up and I can’t back down
I’ve been losing so much time

‘Cause it’s you and me and all of the people with nothing to do
Nothing to lose
And it’s you and me and all other people
And I don’t know why, I can’t keep my eyes off of you

One of the things that I want to say just aren’t coming out right
I’m tripping on words
You’ve got my head spinning
I don’t know where to go from here

‘Cause it’s you and me and all of the people with nothing to do
Nothing to prove
And it’s you and me and all other people
And I don’t know why, I can’t keep my eyes off of you

There’s something about you now
I can’t quite figure out
Everything he does is beautiful
Everything he does is right

‘Cause it’s you and me and all of the people with nothing to do
Nothing to lose
And it’s you and me and all other people
And I don’t know why, I can’t keep my eyes off of you
and me and all other people with nothing to do
Nothing to prove
And it’s you and me and all other people
And I don’t know why, I can’t keep my eyes off of you

What day is it?
And in what month?
This clock never seemed so alive

download

hmmm klo ditanya kenapa jadi song of the day gw…kayaknya gw ga bisa cerita dehh…soalnya too personal…tapi apapun masalah gw…semarah apapun gw..sekecewa apapun gw..sesalah paham apapun itu…

yang gw rasain…hari ini…

And I don’t know why, I can’t keep my eyes off of you
and me and all of the people with nothing to do
Nothing to prove

i’m not trying to say goodbye…i just need a little time to realized..all of things that i did in the past..

mmmmm

mainan baru ( www.sparknotes.com )

kalian tau kan…klo orang 2 jenius biasanya punya jalan pikiran yang “sedikit berbeda”…malah menurut kebanyakan orang malah ke arah “aneh” diperhalu “unik”..

hal ini bisa kamu liat di sparknotes.com….kata temen gw situs itu yang buat anak2 yang kuliah di harvard…..dan emang sih topik2 yang dibahas2 disitu unik-unik….tapi sarat dengan pendidikan..dan berbobot…bukan cuma nyampah (kayak  blog gw)…haaha

dari spark notes gw kemaren dapet info bagus buat semua orang penyuka junkfood (~negasi)

“lemak dari es krim dan hamburger dari junkfood akan langsung ditransfer ke otak dan akan menstimulus otak buat meningkatkan nafsu makan”

nahlooooo serem kan apa lagi yang lagi diet berarti jagan sekali-kali yaa nyentuh2 bgituan dari pada bablas..hehehee..

STOP YELLING PLEASE!

Cewek merupakan makhluk ciptaan tuhan yang diberikan kelebihan2 tertentu untuk dapat memikat lawan jenisnya..
Contohnya aja suara wanita yg lebih nyaring dan merdu dibanding pria, fisik yg lebih memiliki variasi yg lebih memikat(bagian pinggul,dada,bentuk/garis wajah yg lembut,dsb)
Namun banyak sekali penyimpangan yang dilakukan wanita oleh karena memiliki modal lebih dan tidak didukung dengan moral yg cukup.
Contoh nyata,hari ini gw naik kereta ke jogja,kelas bisnis ber4 sama temen kampus gw.duduk dikursi 3&4 c-d.
Diseberang kursi kita 3&4 a-b,ada sekelompok kecil wanita yg akan pergi kejogja untuk liburan..
Selama perjalanan mereka yg mereka lakukan berteriak2 untuk memancing perhatian lawan jenisnya hingga melakukan pose foto berpelukan dgn teman lelakinya ,mungkin terlihat simple, dan klo diruntun kepada tagline jaman sekarang itu yg gaul,yg ga gitu cupu alias jadul..
Ok..berpendapat hak asasi manusia bahkan dilindungi di uud 1945..
tapi dibalik tagline yg ada saat ini gw selalu
Inget sama pesen bapak gw..
“wanita ibarat kertas putih,semakin sering dipakai akan lecek dan ga ada yg mau memakainya lagi”
Pesan ini disampaikan bapak gw sebelum gw kuliah dijogja..
Dari pesen diatas gw yang melihat tingkah laku kursi tetangga tadi menjadi prihatin dengan wanita sekarang yg mudah mengobral terhadap sembarang lelaki,,hingga jika awalnya mereka kertas putih sampai entah masi utuh tidak kertas tersebut.
Sebagai wanita yg mungkin pernah atau akan melakukan tindakan2 yg dapat merendahkan nilai derajat kalian,ingat laki2 baik akan mendapat wanita baik2 pula..
Jika kalian dr muda sudah mengikuti gaya bergaul ala barat,jangan mengharap mendapat laki2 baik diakhir..kedengeran sangat konservatif tp itulah prinsip dasar yg tak dapat dimodifikasi!

Lebaran ke2

Bapak gw itu 10 bersaudara,ditotal anak mereka ada 40..dan ada cicitnya 11 orang,alhamdulillah nenek sama kakek masi hidup,bayangin aja klo mereka sebagian besar kumpul dirumah gw yg kecil ini..huhuhu
Ribet bet bet,mulai dr masak n cuci piring..
But i’m so happy with all of this..happy with my big family..

Moga lebaran taun depan bisa kumpul lagi,hehe

liburan ku tak aman…

semester 5 makin dewasa=makin tua=makin banyak tugas…
terbukti dosen ku baikkkkk sekali..sebelum liburan lebaram mereka seneng banget bagi-bagi THR( Tugas Hari Raya)…ih woww banget kan…semakin kaya deh gw (secara ilmu…)…hehhee…ga pa pa ambil sisi positifnya aja..semua itu pasti bakal ada hikmahnya…
OK lanjutkan lah tugassss hari ini…
-LOVE FKG-

nb: jangan tanya kewarasan gw waktu nulis ini semuaa….
-ditulis dikamar adek gw yang paling kecil di bangka belitung sambil ditemani suara ngorok2 kecilnyaa…-hahhaha…

Tes..tes ngeblog pake hp

Wow ga nyangka hp jadul ini bisa dipake bwt ngeblog..saking bt nya di jalan akhirnya nyoba2 klo gitu besok bisa sering2 deh

« Entri lama