BIOTEKNOLOGI PANGAN HASIL REKAYASA GENETIK DALAM PERSPEKTIF KESEHATAN

TUGAS BIOTEKNOLOGI

BIOTEKNOLOGI PANGAN HASIL REKAYASA GENETIK DALAM PERSPEKTIF KESEHATAN

Nama: Mawar Putri Julica

NIM  : 07/ 250270/KG/8134

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2010

BIOTEKNOLOGI PANGAN HASIL REKAYASA GENETIK DALAM PERSPEKTIF KESEHATAN

Bioteknologi merupakan topik yang sedang banyak dibahas saat ini. Bioteknologi secara sederhana sudah dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Sebagai contoh, di bidang teknologi pangan adalah pembuatan bir, roti, maupun keju yang sudah dikenal sejak abad ke-19 .Bioteknologi juga telah banyak digunakan dalam berbagai bidang untuk meningkatkan hasil produk apalagi sejak dikembangkannya teknologi rekombinan DNA (deoxyribose nucleid acid) . Salah satunya adalah dalam pembuatan Genetically modified organisms (GMOs) , teknik ini biasa disebut dengan bioteknologi modern. Pangan hasil rekayasa genetik (GMF) atau organisme hasil rekayasa genetik (GMO) atau yang di Indonesia dikenal sebagai tanaman transgenik diartikan sebagai suatu tanaman untuk bahan pangan maupun pakan yang dihasilkan dari teknik rekayasa biologi molekuler (WHO, 2010).

Keberadaan teknik GMF rupanya memberikan solusi yang menjanjikan. Sampai saat ini telah dan sedang dikembangkan 8 jenis GMF yang dianggap mendesak untuk segera diperbanyak dan dibudidayakan. Kedelapan GMF tersebut adalah :

1. Tanaman yang resisten terhadap serangan hama.

Tanaman pangan yang rentan terhadap hama dan penyakit mengakibatkan loss yang sangat besar pada hasil panen dan menjadi salah satu pemicu bencana kelaparan pada beberapa negara berkembang. Petani akhirnya dibebani dengan pembelian sejumlah besar pestisida untuk mengatasi loss tersebut. Dan trend penggunaan pestisida makin bertambah dari tahun ke tahun. Padahal konsumen makin kritis terhadap penggunaan pestisida karena potensi bahaya residunya. Di samping itu telah diketahui bahwa pestisida (dan pupuk buatan) dapat mencemari lingkungan dan sumber air minum.

2. Tanaman yang toleran terhadap herbisida.

Budidaya tanaman yang tahan herbisida akan mengurangi biaya pengolahan tanah. Tanaman pengganggu (gulma) dimusnahkan cukup dengan herbisida tanpa kekhawatiran mematikan tanaman yang dibudidayakan.

3. Tanaman yang resisten terhadap penyakit akibat jamur, bakteri dan virus patogen.

Seperti juga tanaman yang resisten terhadap hama, diharapkan ditemukan tanaman yang resisten terhadap penyakit yang ditimbulkan oleh jamur, bakteri dan virus patogen.

4. Bibit tanaman yang tahan terhadap suhu beku

Bibit tanaman mati jika disimpan pada suhu beku. Dengan gen antibeku tanaman akan tahan terhadap suhu beku penyimpanan.

5. Tanaman yang tahan kekeringan dan tahan kadar garam tinggi.

Tanaman jenis ini berguna sekali untuk negara-negara yang tidak dapat lagi melakukan ekstensifikasi lahan. Tanaman ini dapat ditanam pada lahan-lahan yang secara konvensional tidak dapat digunakan untuk budidaya, seperti lahan kering atau tanah yang berkadar garam tinggi.
6. Tanaman pangan, seperti padi, jagung, gandum, yang bergizi tinggi.

Tanaman pangan bergizi tinggi berguna untuk mengatasi malnutrisi pada negara-negara berkembang. Tujuan pengembangan tanaman GM seperti ini adalah memperoleh strain tanaman pangan yang selain mengandung nutrien konvensional juga mengandung vitamin dan mineral yang lengkap.

7. Tanaman yang “disisipi” vaksin.

Vaksin umumnya membutuhkan kondisi penyimpanan yang khusus agar tidak mengalami kerusakan. Untuk negara-negara berkembang kondisi penyimpanan khusus tadi sangatlah memberatkan, maka akan sangat terbantu jika ditemukan teknik penyisipan vaksin (atau obat) ke dalam buah-buahan tertentu.

8. Tanaman-tanaman pembersih lingkungan.

Tanaman jenis ini akan sangat membantu membersihkan lingkungan tanah dan perairan yang tercemar berat, khususnya oleh logam-logam berat. Tanaman ini dapat menyerap logam berat sebagai sumber zat anorganiknya tanpa mengalami gangguan fisiologis. (Widodo, 2008)

Menurut FDA (Food and Drug Administration) Dalam melaksanakan evaluasi keamanan makanan rekayasa genetika, FDA menganggap tidak hanya produk akhir tetapi juga teknik yang digunakan untuk menciptakannya. Meskipun studi produk akhir yang akhirnya memegang jawaban untuk apakah suatu produk yang aman atau tidak untuk dimakan, mempelajari teknik yang digunakan untuk membuat produk dapat membantu dalam memahami pertanyaan dalam meninjau keamanan produk. Itulah cara FDA mengatur kedua produk makanan tradisional dan produk turunan melalui bioteknologi (Maryanski, 1999). Meskipun demikian sebagai seorang konsumen, walaupun suatu produk telah melewati uji dari lembaga seperti FDA kita harus lebih mencermati kembali. Sebab tes-tes yang dilaksanakan seperti yang dilansir oleh WHO, bahwa  produk transgenik yang berada di pasaran internasional yang telah melewati beberapa uji diantaranya; (A) efek kesehatan langsung (toksisitas), (b) kecenderungan untuk memicu reaksi alergi (allergenicity), (c) komponen spesifik yang diduga memiliki sifat gizi atau beracun, (d) stabilitas gen disisipkan, (e) efek nutrisi terkait dengan modifikasi genetik, dan (f) efek yang tidak diinginkan yang dapat dihasilkan dari penyisipan gen, belum memiliki keabsahan dalam studi jangka panjang.

Menurut saya, Uji-uji yang dilakukan masih sebatas hasil akhir produk belum dalam bentuk studi terhadap efek terhadap kesehatan dalam jangka panjang sampai dengan mempelajari apakah tumbuhan transgenic tersebut juga dapat mempengaruhi hingga keturunan kita. Untuk menyikapi berbagai produk baru kita yang akan kita konsumsi memang harus lebih awas, sebab seperti prinsip kesehatan yang ada mencegah lebih baik daripada mengobati. Suatu produk yang telah lolos suatu uji kelayakan pun masih mungkin memunculkan dampak negatif, seperti Kajian ilmiah ISIS (GM Food Nightmare Unfolding in the Regulatory Sham) juga menyampaikan menunjukkan bagaimana kedelai rekayasa genetik menyebabkan tikus betina melahirkan bayi kerdil dan tidak normal dengan lebih dari setengahnya meninggal dalam tiga minggu. Ratusan penduduk dan pemetik kapas di India mengalami alergi. Ribuan domba mati setelah merumput di lahan yang mengandung residu kapas Bt, begitu pun kambing dan sapi dilaporkan tahun ini. Protein buncis berbahaya pindah ke kacang polong, ketika diuji coba pada tikus menyebabkan radang paru-paru hebat dan secara umum menimbulkan sensitif makanan. Jagung rekayasa genetik Mon 863 yang dinyatakan aman seperti jagung non-rekayasa genetik oleh perusahaan dan diterima oleh EFSA, tetapi ketika dianalisa oleh ilmuwan indipenden CriiGen, mereka menemukan tanda keracunan pada liver dan ginjal. Fakta mendorong kita untuk mempertimbangkan bahwa risiko GMO mungkin melekat pada teknologinya, ilmuwan ISIS mengingatkan untuk sepuluh tahun ke depan. (Ho, dkk.,  2007)

Menurut ISIS resiko potensial dari produk transgenic diantaranya,  Gen sintetik dan produk gen baru yang berevolusi dapat menjadi racun dan atau imunogenik untuk manusia dan hewan. Rekayasa genetik tidak terkontrol dan tidak pasti, genom bermutasi dan bergabung, adanya kelainan bentuk generasi karena racun atau imunogenik, yang disebabkan tidak stabilnya DNA rekayasa genetik. Virus di dalam sekumpulan genom yang menyebabkan penyakit mungkin diaktifkan oleh rekayasa genetik.  Penyebaran gen tahan antibiotik pada patogen oleh transfer gen horizontal, membuat tidak menghilangkan infeksi. Meningkatkan transfer gen horizontal dan rekombinasi, jalur utama penyebab penyakit. DNA rekayasa genetik dibentuk untuk menyerang genom dan kekuatan sebagai promoter sintetik yang dapat mengakibatkan kanker dengan pengaktifan oncogen (materi dasar sel-sel kanker). Tanaman rekayasa genetik tahan herbisida mengakumulasikan herbisida dan meningkatkan residu herbisida sehingga meracuni manusia dan binatang seperti pada tanaman. (Ho, dkk.,  2007)

Tidak semua produk tanaman GM tersedia di pasaran umum, tetapi jaringan pemasarannya dapat dikatakan telah mendunia, termasuk Indonesia. Belakangan ditengarai bahwa 80% biji kedele impor untuk bahan baku tempe dan tahu di Indonesia merupakan produk GMF. Pada tahun 2000, lebih dari 13 negara di dunia telah membudidayakan tanaman GMF. Yang terbesar adalah Amerika Serikat, ironisnya sebagian terbesar hasilnya diekspor ke negara-negara berkembang(Widodo, 2008). Kedele dan jagung merupakan dua besar tanaman GMF yang telah dibudidayakan, diikuti oleh kapas, canola dan kentang. Sekitar 75% dari tanaman GMF tersebut memiliki sifat “sintetis” tahan herbisida, tahan serangga dan tahan keduanya (herbisida dan serangga) (USDA, 2000).

Dari pemaparan diatas dapat ditarik sebuah pemikiran bahwa masih banyak yang harus dikaji kembali mengenai produk hasil rekayasa genetik. Penemuan-penemuan baru memang cukup menarik perhatian dan dapat menambah referensi keilmuan, namun terkait dengan permasalahan kesehatan maka sebagai konsumen harus lebih objektif dalam memilih apa yang sebaiknya kita konsumsi. Untuk produk transgenik yang sedang marak di pasaran ini juga kembali menjadi pilihan masing individu, namun bagi saya jika masih dapat memilih pangan hasil tradisional maka saya akan lebih memilih pangan yang sudah ada. Sebab sesuatu yang instan juga belum tentu menghasilkan sesuatu yang optimal. Bukan berarti dengan ini saya menolak semua produk hasil bioteknologi, namun harus lebih memilah-milah kembali untuk sesuatu yang dikonsumsi karena tidak semua hasil produk bioteknologi untuk kebutuhan pangan. Seperti tanaman-tanaman transgenic yang dibuat untuk membersihkan lingkungan dapat menjadi salah satu solutif untuk perbaikan lingkungan walaupun sebenarnya masih dibutuhkan banyak peninjauan terhadap efek jangka panjangnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008. Bioteknologi Solusi Masalah Pangan dan Kesehatan. http://nasional.kompas.com/read/2008/06/16/16155235/Bioteknologi.Solusi.Masalah.Pangan.dan.Kesehatan Diakses Tanggal 21 September 2010

Ho, M-W.,   Cummins, J.  & Saunders, P. Gm Food Nightmare Unfolding In The Regulatory Sham. Microbial Ecology In Health And Disease 2007, 1-12.

Maryanski, J.H, 1999. Bioengineered Food. http://www.fda.gov/NewsEvents/Testimony/ucm115040.htm Diakses Tanggal 21 September 2010

USDA. 2000. Consumer Acceptance. http://www.ers.usda.gov/publications/aib762/aib762g.pdf. Diakses Tanggal 21 September 2010

Widodo, R.  2008. Kontroversi Pangan Rekayasa Genetik. http://www.untag-sby.ac.id/index.php?mod=berita&id=63. Diakses Tanggal 21 September 2010

WHO.  20 Questions On Genetically Modified (Gm) Foods. Http://Www.Who.Int/Foodsafety/Publications/Biotech/20questions/En/ Diakses Tanggal 21 September 2010

One thought on “BIOTEKNOLOGI PANGAN HASIL REKAYASA GENETIK DALAM PERSPEKTIF KESEHATAN

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s