saliva

SALIVA

Pengertian saliva
Saliva adalah cairan kompleks yang diproduksi oleh kelenjar khusus dan disebarkan ke dalam cavitas oral.
Kelenjar saliva dibagi menjadi 2:
1. Glandula salivarius mayor, terdiri dari:
• Sub mandibulla
Glandula sub mandibullaris terdiri atas pars superficialis dan pars profunda yang saling berhubungan pada tepi posterior musculus mylohyoideus. Pars superficialis terletak di dalam trigonum sub mandibulare dan meluas ke atas ditutupi oleh corpus mandibulae.
• Sub lingua
Glandula sub lingualis terletak di bawah lidah.
• Parotid
Glandula parotis terletak di bawah meatus acusticus eksternus dan berada dalam suatu lekuk, dibawah dan di belakang ramus mandibula serta di depan musculus sternocleidomastoideus.

2. Glandula salivarius minor, terdiri dari:
• Glandula bukalis
• Glandula palatinalis
• Glandula lingualis
• Glandula labialis, dll.

Komposisi saliva:
Komposisi dari saliva meliputi komponen organik dan anorganik. Namun demikian, kadar tersebut masih terhitung rendah dibandingkan dengan serum karena pada saliva penyusun utamanya adalah air. Komponen anorganik terbanyak adalah sodium, potassium (sebagai kation), khlorida, dan bikarbonat (sebagai anion-nya).
Sedangkan komponen organik pada saliva meliputi protein yang berupa enzim amilase, maltase, serum albumin, asam urat, kretinin, mucin, vitamin C, beberapa asam amino, lisosim, laktat, dan beberapa hormon seperti testosteron dan kortisol.
Selain itu, saliva juga mengandung gas CO2, O2, dan N2. Saliva juga mengandung immunoglobin, seperti IgA dan IgG dengan konsentrasi rata-rata 9,4 dan 0,32 mg%

Fungsi saliva:
 Menghaluskan makanan
 Membentuk makanan menjadi bolus-bolus sehingga dapat ditelan dengan mudah.
 Memecah karbohidrat menjadi maltosa dan dextrin ( Karena adanya enzim amilase dalam saliva).
 Mencegah kerusakan dan erosi pada gigi.
 Meminimalisir keasaman rongga mulut dan mencegah kerusakan struktur gigi saat terjadi muntah.
 Ion-ion seperti Ca, P, dan F yang terkandung dalam saliva berperan penting pada proses remineralisasi.
 Mempertahankan mulut tetap lembap.
 Membantu proses bicara dengan memudahkan gerakan bibir dan lidah.
 Mempertahankan mulut dan gigi tetap bersih.
 Mekanisme pertahanan tubuh (mempunyai daya anti-bakteri) dan sebagai anti oksidan.

Fungsi Efek Komponen yang berperan
Proteksi Membersihkan
Pelumas
Thermis
Pembentukan pelikel Air
Mucin dan glikoprotein
Mucin
Protein, glikoprotein, mucin
Penyeimbang PH Menstabilkan PH
Menetralisir asam Bikarbonat, fosfat
Protein dasar, urea, amonia
Keutuhan gigi Pemasakan email dan perbaikan email Kalsium, fosfat, fluoride, statherin, protein kaya prolin
Anti mikroba Phisycal barrier
Immune defense
Nonimmune defense Mucin
Sekresi Ig A
Peroksidase, lisosim, laktoferin, histatin, mucin, dan aglutinin
Perbaikan jaringan Penyembuhan luka dan regenerasi epitel Faktor pertumbuhan dan protein trefoil
Pencernaan Pembentukan bolus Pencernaan karbohidrat dan trigliserida Mucin dan air
Amilase dan lipase
Perasa Memelihara kondisis indera pengecap Faktor pertumbuhan epidermal dan karbonik hidrase VI

Mekanisme sekresi saliva
Di kelenjar saliva, granula ssekretorik (zymogen) yang mengandung enzim-enzim saliva dikeluarkan dari sel-sel asinar ke dalam duktus. Karakteristik ketiga kelenjar saliva pada manusia dapat diringkas sebagai berikut:

Kelenjar Jenis histologi sekresi Persentase saliva total pd manusia (1.5 L per hari)
Parotis Serosa Air 20
Sub mandibulla Campuran Agak viskous 70
Sub lingua mucus vikous 5

Regulasi sekresi saliva
Sekresi saliva berada dibawah kontrol saraf. Rangsangan pada (1) Inervasi saraf parasimpatik memegang peran utama stimulus sekresi saliva, dan berpengaruh terhadap komposisinya. Saraf parasimpatis dari nukleus salivatorius superior(bagian dari nervus fasialis dan berlokasi di pontine tegmentum) menyebabkan sekresi liur cair dalam jumlah besar dengan kandungan bahan organik yang rendah. Sekresi ini disertai oleh vasodilatasi mencolok pada kelenjar, yang disebabkan oleh pelepasan VIP (vasoactive intestine polipeptide). Polipeptida ini adalah co-transmitter dengan asetilkolin pada sebagian neuron parasimpatis pascaganglion. Rangsangan (2) Saraf simpatis cenderung mempengaruhi volume sekresinya. Saraf simpatis menyebabkan vasokonstriksi dan sekresi sedikit saliva yang akan bahan organik dari kelenjar submandibulais. Pada kelenjar sub lingual dan kelenjar-kelenjar minor, lebih dipengaruhi oleh respon kolinergik, sedangkan pada kelenjar lainnya cenderung ke inervasi adrenergik.
. Selain dari perbedaan tipe reseptor autonom yang aktif, terdapat dua faktor lain yang berpengaruh terhadap komposisis saliva, yaitu intensitas dan durasi stimulasi ke kelenjar. Perbedaan tersebut berpengaruh langsung kepada permeabilitas membran sel-sel sekretori sebagai akibat dari hilangnya elektrolit sel tersebut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi sekresi saliva:
Kelenjar saliva dapat dirangsang dengan cara-cara berikut:
 Mekanis, misalnya mengunyah makanan keras atau permen karet
 Kimiawi, oleh rangsangan seperti asam, manis, asin, pahit, dan pedas.
 Neuronal, melalui sistem saraf autonom baik simpatis maupun parasimpatis.
 Psikis, stress menghambat sekresi, ketegangan dan kemarahan dapat bekerja sebagai stimulasi.
 Rangsangan rasa sakit, misalnya oleh radang, gingivitis, dan pemakaian protesa yang dapat menstimulasi sekresi.

Kelainan saliva
1. Syndroma Sjogren
Penyakit ini ditandai dengan :
 Sekresi ludah dan sekresi kelenjar air mata yang menurun
 Pembengkaan glandula parotis
 Artritis
Sebab terjadinya sindroma tersebut tidak dikatakan secara jelas. Mungkin ini adalah suatu penyakit autoimune atau dapat pula disebabkan oleh virus. Sekitar 90% penderitanya berusia 40 -60 tahun, 50-60 % diantaranya juga mempunyai gangguan jaringan ikat. Penderita sindroma ini sering mengeluh rasa terbakar di lidah, bibir, dan pipi. Pada sindroma ini terjadi perubahan-perubahan pada ludah yaitu pada atrofi sel sel asinar kelenjar ludah yang melanjut pada sekresi kelenjar ludah diikuti oerubahan konsentrasi beberapa komponen organik atau anorganik. Disamping itu terjadi perubahan imunologis kelenjar ludah.
2.Fibrosis Sistik
Tiga gejala klasik pada diagnosisi penyakit ini adalah
 Konsentrasi klorida keringat meningkat kira – kira 5 x lipat dari harga normal
 Gangguan penyumbatan paru – paru kronis
 Pankreas tiodak berfungsi
Kelenjar ludah yang terserang penyakit ini memeliki susunan yang abnormal, walaupun secara klinis perubahannya kecil. Kadar Ca 2+ yang meningkat dapat menjadi penyebab naiknya pertumbuhan karang gigi, yang terjadi pada 90 – 100% penderita fibrosis sistik. Kelainan gigi pada penderita penyakiyt ini diperkirakan disebabkan karena faktor-faktor lain yang abnormal dalam ludah
3. Tumor kelenjar ludah
Pada pertumbuhan tumor dikelenjar ludah sering terjadi perubahan perubahan tiak spesifik, misalnya karena pendesakan sel asinar, sehingga sintesis komponen ludah dan sekresi ludah menurun.

OBAT ANTI KANKER/ ANTINEOPLASTIK
Sel tumor berasal dari sel tubuh yang normal. Obat anti kanker berkerja tidak selektif terhadap sel kanker, sehingga sel tubuh yang normalpun akan menjadi sasaran yang membahayakan. Perbedaan sel normal dan sel kanker hanya terdapat pada jumlah dan progesifitas tahapan pembelahan.
Cara kerja obat kanker :
1. Menghambat proliferasi sel (sebagian besar anti kanker), menghancurkan DNA dengan cara :
a. Mencegah pemisahan rantai DNA
b. Menghambat perbaikan DNA karena adanya ikatan gugus alkil dengan basa DNA
c. Menyerupai basa DNA, sehingga terjadi penggabungan obat kedalam DNA dan pemutusan rantai DNA serta umpan balik negatif enzim yang mensintesis dan mendaur ulang purin
d. Membuat radikal oksigen bebas yang menghancurkan DNA
Menghambat pembelahan sel yang dengan cara mengganggu sintesa protein, DNA, RNA, dan mikrotubulus pada mitosis (disebut zat spesifik siklus sel)
Ada 5 tahap siklus replikasi sel, yaitu:
a) G1 : Memproduksi enzim yang diperlukan DNA
b) S1 : Sintesis dan replikasi DNA
c) G2 : Tahap RNA dan sintesa protein
d) M : Tahap pembelahan
e) G0 : Fase istirahat
Beberapa obat kanker bkerja pada semua tahap disebut on spesifik siklus sel atau NSSS, tetapi ada yang hanya bekerja pada tahap tertentu saja disebut spesifik siklus sel atau SSS. Yang termasuk kelompok obat NSSS adalah obat-obat alkilasi, antibiotik anti tumor, dan antikanker hormon. Termasuk SSS adalah antimetabolit (efektif pada tahap S) dan alkaloid vinka (efektif pada tahap M).
2. Mengantagonis reseptor, atau mengagonis reseptor terutama anti kanker hormonal, yang keduanya menyebabkan terjadinya pencegahan pertumbuhan endogen sel.( Sutedjo. 2008)

SKENARIO
Seorang pria berumur 25 tahun datang ke RSGM FKG UGM, mengeluh mengenai rasa kering dan tidak nyaman pada rongga mulutnya. Terdapat sariawan di bagian labia inferior. Pasien tersebut pernah mendapat vitamin dari dokter gigi namun eluhannya tidak berkurang. Berdasar catatan di rekam medis, pasien tersebut pernah menjalani terapi dengan mengkonsumsi beberapa obao-obatan anti kanker karena terdapat tumor di prostatnya.
Kinerja obat anti kanker :
3. Menghambat proliferasi sel (sebagian besar anti kanker), menghancurkan DNA dengan cara :
a. Mencegah pemisahan rantai DNA
b. Menghambat perbaikan DNA karena adanya ikatan gugus alkil dengan basa DNA
c. Menyerupai basa DNA, sehingga terjadi penggabungan obat kedalam DNA dan pemutusan rantai DNA serta umpan balik negatif enzim yang mensintesis dan mendaur ulang purin
d. Membuat radikal oksigen bebas yang menghancurkan DNA
Menghambat pembelahan sel yang dengan cara mengganggu sintesa protein, DNA, RNA, dan mikrotubulus pada mitosis (disebut zat spesifik siklus sel)
Beberapa obat kanker bekerja pada semua tahap disebut on spesifik siklus sel atau NSSS, tetapi ada yang hanya bekerja pada tahap tertentu saja disebut spesifik siklus sel atau SSS. Yang termasuk kelompok obat NSSS adalah obat-obat alkilasi, antibiotik anti tumor, dan antikanker hormon. Termasuk SSS adalah antimetabolit (efektif pada tahap S) dan alkaloid vinka (efektif pada tahap M).
4. Mengantagonis reseptor, atau mengagonis reseptor terutama anti kanker hormonal, yang keduanya menyebabkan terjadinya pencegahan pertumbuhan endogen sel
Kaitan penggunaan obat anti kanker terhadap adanya sariawan yang tidak sembuh-sembuh :
1. Saliva mengandung komponen organik yang meliputi protein, berupa enzim amilase, maltase, serum albumin, asam urat, kretinin, mucin, vitamin C, beberapa asam amino, lisosim, laktat, dan beberapa hormon seperti testosteron dan kortisol. Selain itu saliva juga mengandung immunoglobin, seperti IgA dan IgG dengan konsentrasi rata-rata 9,4 dan 0,32 mg%. Sedangkan obat anti kanker bekerja menghambat proliferasi sel dengan cara mengganggu sintesa protein. Dalam hal ini obat anti kanker membuat sintesa imunoglobulin A dan G yang termasuk dalam golongan protein menjadi terhambat. Padahal IgA dan IgG merupakan senyawa protein yang berperan dalam sistem imun sehingga adanya infeksi termasuk ulserasi berupa stomatitis dalam rongga mulut akan cepat sembuh jika sistem imun ini bekerja dengan baik. Obat anti kanker yang dikonsumsi berefek mengintervensi sistem imun tubuh oleh imunoglobulin. Protein juga berperan dalam proses regenerasi sel-sel epitel penyusun mkosa rongga mulut. Jika proses pembentukan protein itu sendiri terganggu maka regenerasi sel tidak akan berjalan dengan baik. Sehingga ketika diberi vitamin C oleh dokter gigi, sariawan pada pasien tersebut tidak berkurang.
2. Saliva diekskresikan oleh glandula salivarius sebagai suatu respon akan adanya rangsang yang diterima oleh reseptor di dalam rongga mulut. Kelenjar saliva dapat dirangsang dengan cara-cara berikut:
a. Mekanis, misalnya mengunyah makanan keras atau permen karet
b. Kimiawi, oleh rangsangan seperti asam, manis, asin, pahit, dan pedas.
c. Neuronal, melalui sistem saraf autonom baik simpatis maupun parasimpatis.
d. Psikis, stress menghambat sekresi, ketegangan dan kemarahan dapat bekerja sebagai stimulasi.
e. Rangsangan rasa sakit, misalnya oleh radang, gingivitis, dan pemakaian protesa yang dapat menstimulasi sekresi
Obat anti kanker berefek dalam mengantagonis reseptor. Dalam hal ini, reseptor dalam rongga mulut apabila mendapat rangsangan seperti tersebut di atas akan merangsang ekskresi saliva. Obat anti kanker inilah yang akan mengintervensi reseptor tersebut sehingga bekerja menjadi antagonis, yaitu berefek pada berkurangnya ekskresi saliva. Ekskresi saliva yang berkurang akan menyebabkan mulut menjadi kering atau xerostomia. Mulut kering lebih rentan terjadi adanya ulserasi pada mukosa rongga mulut sehingga menyebabkan terjadinya sariawan atau stomatitis.. Hal ini karena obat anti kanker yang pernah dikonsumsi berefek pada sedikitnya ekskresi glandula salivarius dan kandungan immunoglobulin di dalam saliva.

DAFTAR PUSTAKA

Sutedjo. 2008. Mengenal Obat-obatan secara Mudah & Aplikasinya dalam Perawatan. Amara Books : Yogyakarta.
Indriyani, Wiwiek. 2007. Saluran Cerna. Surabaya http://rumahkanker.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=40. Diakses tanggal 01-12-08 jam 20.00 WIB

Hasibuan, Sayuti. 2002. Keluhan Mulut Kering Ditinjau dari Faktor Penyebab, Manifestasi dan Penanggulangannya. USU digital library.

Ganong,W.F.. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC : Jakarta.

Guyton and Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC : Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s