PENGAMATAN KEPADATAN SERABUT KOLAGEN PADA PROSES PENYEMBUHAN LUKA GINGIVA TIKUS Spraque dawley

PENGAMATAN KEPADATAN SERABUT KOLAGEN PADA PROSES PENYEMBUHAN LUKA GINGIVA TIKUS Spraque dawley
Mawar Putri Julica
07/250270/KG/08134
Laboratorium Biologi Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Intisari
Penyembuhan luka melibatkan tiga fase yang saling bergantung. pemodelan kembali dan penyembuhan jaringan penghubung di periodontium simultan melibatkan sintesis dan degradasi kolagen fibril. Buah adas (Foeniculum vulgare Mill.) Digunakan sebagai obat tradisional dan mengandung anti-inflamasi dan antioksidan yang semuanya pengaruh dalam penyembuhan luka. Tujuan percobaan ini adalah untuk mengamati kepadatan serat kolagen dalam penyembuhan luka gingiva tikus Spraque dawley setelah aplikasi topikal ekstrak adas 50%. Pada percobaan ini dua kelompok sampel dilakukan. Satu kelompok sampel kontrol 3, 7, 14, dan 21 hari. Kelompok lain adalah sampel dengan administrasi topikal ekstrak adas 50%. Dari kontrol sampel, kriteria kepadatan serat kolagen diputuskan oleh skor dari 1 sampai 3. Setiap sampel diamati oleh mikroskop. Kemudian, kerapatan serat kolagen dinilai dan dirata-rata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kepadatan serat kolagen dalam sampel kontrol hari pertama, ketiga, kelima, ketujuh, kesepuluh dan keempat belas adalah 1,23, 1,4, 1,5, 1,6, 1.6, dan 1,7 sedangkan kepadatan di sampel ekstrak adas hari pertama, ketiga, kelima, ketujuh, kesepuluh dan keempat belas adalah 1,37, 1,56, 1,56, 1.76, 1.8, dan 2.33. Kesimpulan dari percobaan ini adalah administrasi 50% topikal ekstrak adas mempercepat proses penyembuhan luka dan dipengaruhi kerapatan serat fibroblast dan kolagen.
Keyword(s) : penyembuhan luka, remodeling, kolagen, Adas

PENDAHULUAN
Praktikum ini bertujuan untuk mengamati kepadatan serabut kolagen pada proses penyembuhan luka gingiva tikus (Spraque dawley) setelah pemberian topical ekstrak tanaman buah adas (Foeniculum vulgare mill.).
Proses penyembuhan luka sendiri bukan merupakan proses linier sederhana, tetapi merupakan suatu proses yang kompleks namun sistematik. Lebih lanjut dikatakan proses penyembuhan luka merupakan proses yang kompleks dan melibatkan interaksi berbagai jenis sel dan mediator-mediator biokimia. Oleh karena itu proses penyembuhan luka tidak terbatas pada proses-proses regenerasi lokal tapi merupakan kondisi keseluruhan yang melibatkan faktor-faktor endogen seperti umur, nutrisi, pengobatan, status imunologis, kondisi metabolik dan sebagainya.1,2. Vitamin A dapat membantu proses epitelisasi, atau penutupan luka dan sintesis kolagen3
Tubuh secara normal akan berespon terhadap cedera dengan jalan proses peradangan, yang dikarakteristikkan dengan lima tanda utama: bengkak (swelling), kemerahan (redness), panas (heat), Nyeri (pain) dan kerusakan fungsi (impaired function). Proses penyembuhannya mencakup beberapa fase, meliputi : hemostasis, inflamasi, proliferasi atau granulasi, dan remodeling atau maturasi.4,5 Secara umum penyembuhan luka terdiri dari tiga fase;

1. Fase Inflamasi
Fase inflamasi adalah adanya respon vaskuler dan seluler yang terjadi akibat perlukaan yang terjadi pada jaringan lunak. Respon inflamasi ditandai dengan timbunan sel polimorfonuklear (PMN) yaitu neutrofil, disekitar jaringan inflamasi . Fase ini dimulai dari hari 1 – 4 setelah perlukaan. Secara klinis fase inflamasi ini ditandai dengan : eritema, hangat pada kulit, oedema dan rasa sakit yang berlangsung sampai hari ke-3 atau hari ke-4. Pada awal fase ini kerusakan pembuluh darah akan menyebabkan keluarnya platelet yang berfungsi sebagai hemostasis. Platelet akan menutupi vaskuler yang terbuka (clot) dan juga mengeluarkan “substansi vasokonstriksi. Selanjutnya terjadi penempelan endotel yang akan menutup pembuluh darah.4
2. Fase Proliferatif
Sesudah terjadi luka, fibroblas akan aktif bergerak luka ke dalam daerah luka, kemudian akan berproliferasi serta mengeluarkan beberapa substansi kolagen, elastin, fibronectin dan proteoglycans yang berperan dalam rekontruksi jaringan baru. Fungsi kolagen yang lebih spesifik adalah membentuk calon jaringan baru (connective tissue matrix) dan dengan dikeluarkannya substrat oleh fibroblas, memberikan pertanda bahwa makrofag, pembuluh darah baru dan juga fibroblas sebagai kesatuan unit dapat memasuki kawasan luka. Sejumlah sel dan pembuluh darah baru yang tertanam didalam jaringan baru tersebut disebut sebagai jaringan “granulasi”. Tahapan granulasi terjadi kurang-lebih pada hari ke-4 sampai ke-21 (tergantung ukuran luka). Jendalan darah yang terbentuk pada tahapan sebelumnya akan digantikan oleh jaringan granulasi. Kemudian luka terisi fibroblast yang dan luka pun menutup3.
Fibroblast mensintesis kolagen yang merupakan matrik penting dalam proses regenerasi luka, serta metabolisme dan proses pemeliharaan jaringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fibroblas di zona luka menunjukan kegiatan fagositik kolagen yang tinggi, dan menunjukkan bahwa fibroblas memiliki peran mendasar dalam remodelling kolagen dalam perbaikan luka in vitro. Hal ini pada sistem eksperimental vitro juga disarankan sebagai model yang berguna untuk analisis remodelling kolagen dalam penyembuhan luka-oleh fibroblast.6 Tahapan selanjutnya adalah angiogenesis dan epitelialisasi2. Fase proliferasi akan berakhir jika epitel dermis dan lapisan kolagen telah terbentuk, terlihat proses kontraksi dan akan dipercepat oleh berbagai growth faktor yang dibentuk oleh makrofag dan platelet.
3. Fase Maturasi
Fase ini dimulai pada minggu ke-3 dan berakhir sampai kurang lebih 12 bulan. Tujuan dari fase ini; menyempurnakan terbentuknya jaringan baru menjadi jaringan penyembuhan yang kuat dan bermutu. Fibroblas sudah mulai meninggalkan jaringan granulasi. Untuk mencapai penyembuhan yang optimal diperlukan keseimbangan antara kolagen yang diproduksi dengan yang dipecahkan. Pada tahapan ini, sel granulasi akan digantikan oleh jaringan ikat yang baru dan pembuluh darah baru melalui proses degradasi dan apoptosis. Jika regenerasi tidak dimungkinkan, maka yang terjadi adalah pembentukan jaringan parut. Pada proses remodeling ini, hampir 70% kekuatan asli jaringan akan kembali pulih3.Kolagen yang berlebihan akan terjadi penebalan jaringan parut atau hypertrophic scar, sebaliknya produksi yang berkurang akan menurunkan kekuatan jaringan parut dan luka akan selalu terbuka.
Pada proses ginggivektomi, jaringan klinis dapat kembali menyerupai ginggiva normal dalam beberapa minggu, serta membutuhkan waktu beberapa bulan untuk melengkapi penyembuhan dan organisasi dari bundel serat7
Proses penyembuhan luka tidak hanya terbatas pada proses-proses regenerasi lokal, tetapi merupakan kondisi keseluruhan yang melibatkan faktor-faktor endogen yang salah satunya adalah pengobatan. Sebuah studi tahun 2004 menemukan bahwa biji adas mengandung anti-inflamasi, mengurangi rasa sakit (analgesik) dan antioksidan yang semuanya akan membantu dalam penyembuhan eksim.8 Adas (Foeniculum vulgare Mill.) merupakan salah satu tanaman obat dari Familia Apiaccae (Umbelliferae).9 Hasil penelitian menunjukkan daun dan biji Foeniculum vulgare mengandung flavonoid, saponin, protein, asam amino dan lemak. Daun mengandung flavonoid konsentrasi yang lebih tinggi . Sedangkan tingkat saponin, protein, asam amino dan senyawa organik lain yang tinggi di biji.10 pada tunasnya memiliki kandungan flavonoid dan antioksidan tertinggi.11Selain itu, adas juga mengandung asam askorbat yang berperan penting dalam mengaktifkan enzim prolil hidroksilase yang menunjang tahapan hidroksilasi dalam pembentukan hidroksiprolin, suatu unsur integral kolagen. Sehingga asam askorbat ini berperan penting dalam proses penyembuhan luka.
BAHAN DAN CARA
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ‘Kepadatan Serat Kolagen’ adalah mikroskop, preparat kontrol gingiva tikus (Sparaque dawley) hari ke-1, 3, 5, 7, 10 dan 14, serta preparat gingiva tikus yang telah diberi perlakuan dengan ekstrak buah adas 50% hari ke-1, 3, 5, 7, 10 dan 14.
Praktikum kali ini dilakukan dengan menghitung skor kepadatan serat kolagen masing-masing preparat yang telah disediakan. Pertama, dengan menggunakan mikroskop perbesaran 40x dari preparat kontrol diambil gambar untuk menentukan kriteria kepadatan serat kolagen. Kepadatan serat kolagen yang tipis diberi nilai satu. Kepadatan serat kolagen yang sedang diberi nilai 2, dan kepadatan serat kolagen yang padat sekali diberi nilai 3. Kemudian masing-masing preparat diamati dengan mikroskop perbesaran 40x dan kepadatan serat kolagennya diberi nilai. Masing-masing preparat diamati sebanyak 10 lapang pandang. Masing-masing preparat dilihat oleh 3 praktikan yang berbeda kemudian jumlah kepadatan serat kolagen dihitung dan dirata-rata.
HASIL PERCOBAAN
Tabel 1. Preparat kontrol hari ke-14
Gambar 1
Kepadatan serabut kolagen nilai 1
Gambar 2
Kepadatan serabut kolagen nilai 2
Gambar 3
Kepadatan serabut kolagen nilai 3

Tabel 2. Rata-rata skor kepadatan serabut kolagen
preparat kontroldan preparat yang diberi perlakuan
PREPARAT RERATA KEPADATAN SERAT KOLAGEN
KONTROL PERLAKUAN ADAS 50%
Hari ke-1 1,23 1,37
Hari ke-3 1,4 1,56
Hari ke-5 1,5 1,56
Hari ke-7 1,6 1,76
Hari ke-10 1,6 1,8
Hari ke-14 1,7 2,33

Grafik 1. Rata-rata skor kepadatan serabut kolagen
preparat kontroldan preparat yang diberi perlakuan
PEMBAHASAN
Dalam proses penyembuhan luka selain faktor¬faktor pertumbuhan mengatur migrasi, proliferasi dan diferensiasi sel, juga terjadi sintesis dan degradasi protein matriks ekstrasel. Matriks ekstrasel secara langsung mempengaruhi peristiwa selular dan memodulasi sel yang berespon terhadap faktor pertumbuhan. Komponen utama protein matriks ekstrasel adalah kolagen. Kolagen memberikan kekuatan dan integritas untuk seluruh jaringan tubuh. Demikian pula, kekuatan dan integritas seluruh perbaikan jaringan dipercayakan pada ikatan silang dan deposisi kolagen. Berbagai keadaan dapat menghambat perkembangan integritas dan kekuatan luka disebabkan oleh berkurangnya produksi kolagen. sebaliknya juga terdapat faktor-faktor yang mendorong sintesis kolagen.2
Penyembuhan setelah eksisi ginggiva pada gingivectomy, pembentukan clot dan fibrin terjadi diatas jaringan ikat yang terbuka, dalam beberapa jam jaringan ikat memulai produksi jaringan granulasi “buds”. Proliferasi jaringan ikat ditandai dengan meningkatnya aktivitas mitosis fibroblas, sel endotelial, kapiler darah dan sel mesenkim yang tidak terdiferensiasi. Selanjutnya bagian ini akan ditutupi dan diinfiltrasi oleh neutrofil. Penyembuhan luka terdiri dari permukaan dasar jaringan ikat yang sedang meradang, ditutup oleh jaringan granulasi kemudian zona neutrofil yang berlapis dan akhirnya clot. Epitel mulai berproliferasai di pinggiran luka dan bermigrasi sel per sel (sekitar 0,5 mm per hari) di bawah clot, melewati zona neutrofil dan diatas jaringan granulasi. Ephitelum terus berkembang biak dalam lapisan tipis sampai mencapai permukaan gigi. Sementara hal ini terjadi, fibroblas dijaringan granulasi mulai memproduksi kolagen yang belum matang serta yang belum berpolimerisasi sempurna. pada titik ini clot mengelupas, setelah berfungsi secara biologis sebagai perban. proliferasi dan maturasi kolagen dan epitel terus berlangsung sampai terbentuk kolagen matang yang menutupi permukaan atas epithelium.7
Secara umum pada preparat kontrol mengalami kenaikan skor kepadatan kolagen yang cukup signifikan. Pada saat hari ke-1 dan ke-3, skor kepadatan kolagen peparat kontrol masih rendah namun terlihat adanya peningkatan sebab proses penyembuhan baru sampai pada tahap inflamasi sehingga serabut kolagen yang terbentuk masih sedikit. Kemudian pada hari ke 5 sampai 14, preparat kontrol menunjukkan adanya peningkatan skor kepadatan serabut kolagen, karena pada hari ke-4 proses penyembuhan luka sudah memasuki tahap proliferasi yang ditandai dengan pembentukan jaringan granulasi..
Pada preparat dengan perlakuan, rerata skor kepadatan kolagennya lebih banyak daripada preparat kontrol. Pada sebuah penelitian skor kepadatan kolagen terlihat memuncak pada hari ke-7, selanjutnya skor kepadatan kolagen pada preparat dengan perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan perparat kontrolnya. Hal ini dikarenakan proses penyembuhan luka telah memasuki fase remodeling. Pada fase remodeling ini, terjadi sintesis dan degradasi kolagen secara simultan,sehingga jumlah kolagen yang terlihat tidak sebanyak fase sebelumnya. 12 Namun, hasil praktikum yang didapatkan tidak sesuai dengan pernyataan tersebut. Dari tabel hasil yang terlihat adalah adanya peningkat dari awal hingga hari ke-14. Kemungkinan terjadi kesalahan hitung seperti sebelumnya karena praktikan sempat mengulang perhitungan, yang disebabkan ada beberapa preparat yang telah pecah sehingga gambaran mikroskopis tidak terlalu jelas, Selain itu, praktikan masih mengalami kesusahan dalam menilai kepadatan kolagen meskipun diawal praktikum telah menyamakan persepsi. Seharusnya, penurunan skor kepadatan kolagen pada preparat perlakuan terjadi setelah hari ke-7 karena kandungan buah adas (saponin, flavonoid dan asam askorbat) mampu menstimulasi biosintesa kolagen yang menyebabkan proses penyembuhan luka menjadi lebih cepat daripada biasanya. sehingga, seharusnya preparat perlakuan pada hari ke-10 dan 14 telah memasuki tahapan remodeling sehingga skor kepadatan kolagennya tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan perparat kontrolnya.
Dibandingkan dengan kontrolnya, bisa dilihat juga bahwa preparat gingiva tikus yang diberi perlakuan dengan ekstrak buah adas 50% ternyata memperlihatkan serabut kolagen yang lebih padat. Hal ini sudah sesuai dengan penelitian yang menyatakan bahwa ekstrak adas dapat mempercepat proses penyembuhan luka.12 Adas mengandung anti-inflamasi, mengurangi rasa sakit (analgesik) dan antioksidan.8 Beberapa kandungan buah Adas dapat mempercepat proses penyembuhan luka, misalnya saja efek saponin pada peningkatan metabolisme matriks ekstraseluler, serta aktivasi dan sintesis TGF-β yang menstimulasi biosintesis kolagen.13 Selanjutnya, proses radang dipersingkat oleh efek antiradang dari flavonoid dan saponin sehingga penyembuhan masuk ke tahap proliferasi lebih cepat. Kandungan asam askorbat pada buah adas ternyata mampu mempercepat sintesis kolagen pada fase proliferasi, sehingga proses penyembuhan luka memasuki tahap remodeling lebih awal. Sebelumnya telah disebutkan bahwa proses penyembuhan luka tidak hanya terbatas pada proses-proses regenerasi lokal, tetapi merupakan kondisi keseluruhan yang melibatkan faktor-faktor endogen yang salah satunya adalah pengobatan1. Hal tersebut semakin menguatkan bahwa serabut kolagen yang merupakan indikator penyembuhan luka, akan terlihat lebih padat pada preparat yang mendapat perlakuan (ekstrak buah adas 50%) dibandingkan dengan kontrolnya.
KESIMPULAN
Pemberian ekstrak buah adas konsentrasi 50% terbukti dapat mempercepat proses penyembuhan luka gingiva. Hal ini ditunjukkan dengan terjadinya fase remodeling yang lebih cepat (hari ke-7) dibanding kontrolnya (hari ke-14) dan meningkatnya kepadatan serabut kolagen dalam jaringan.

DAFTAR PUSTAKA

1Hermanto, Eddy & Taufiqurrahman, Irham. Manfaat terapi oksigen hiperbarik dalam mempercepat proses penyembuhan luka. Downloaded from http://www.pdgi-online.com/v2/index.php?option=com_content&task=view&id=732 .Diakses tgl 4 Oktober 2009
2 Kalangi, Sonny JR. Peran Kolagen Pada penyembuhan Luka. Dexa Media. 2004; (17): 4
3Alimul, A.A.2008.Ketrampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan edisi 2.Jakarta: Salemba Medika.
4Cotran, R.S., Kumar, V., Robbins, S.L. 1997. Basic pathology, 6th Ed. Michigan: W.B. Saunders Co.
5Fishman,Tamara.D. 1995. Phases of Wound Healing. Downloaded from http://www.medicaledu.com/phases.htm diakses tgl 3 Oktober 2009
6Yajima, T. 1988. Collagen Remodelling In Wound Healing by Gingival Fibroblasts in Vitro. Adv Dent Res.1988; 2(2):228-233
7Vernino, A.R., Gray, J., Hughes, E.. 2007. The Periodontic Syllabus, 5th Edition
Philadelpia: Lippincott Williams & Wilkins.
8Choi, Eun-Mi and Hwang, Jae-Kwan. Anti-inflammatory, analgesic and antioxidant activities of the fruit of Foeniculum vulgare.Fitoterapia. 2004 ;75(6):557-65
9Sentra informasi IPTEK.2005.Tanaman Obat Indonesia. Downloaded From Http://Www.Iptek.Net.Id/Ind/Pd_Tanobat/View.Php?Mnu=2&Id=106 Diakses tanggal 5 Oktober 2009
10Gulfraz, M., M. Arshad, N. Uzma, Kanwal and K. Shabir,. 2005. Comparison in Various Bioactive Compounds of Leaves and seed of Foeniculum Vulgare Mill.
11Barros, L., Heleno, S.A., Carvalho ,A.M., and Ferreira, I.C.F.R. Systematic evaluation of the antioxidant potential of different parts of Foeniculum vulgare Mill. from Portugal.
Elseivier, Food and Chemical Toxicology.2009; (47): 2458-2464
12Rachmawati, N. dkk. 2006. Re-Epitelisasi,Kepadatan Fibroblast Dan Serabut Kolagen Pada Proses Penyembuhan Luka Gingiva Labial Tikus Sprague dawley Setelah Pemberian Topikal Ekstrak Buah Adas (Foeniculum vulgare Mill.) 50%.
13Kanzaki, T., Morisaki, N., Shiina, R., Saito, Y. Role of Transforming Growth Factor-β Pathway in the Mechanism of Wound Healing by Saponin from Gingseng Radix rubra. British Journal of Pharmacology. 1998: 125:255-262.

5 thoughts on “PENGAMATAN KEPADATAN SERABUT KOLAGEN PADA PROSES PENYEMBUHAN LUKA GINGIVA TIKUS Spraque dawley

  1. Saya ada tertarik dengan pengamatan kepadatan kolagen yang anda teliti dan ingin mengetahui lebih lanjut, apa bisa email langsung ke anda ? saya tunggu jawaban di email saya langsung ya…
    Tq alot.

  2. mbak aku tertarik dengan penelitian ini, bisa tolong di jelaskan bagaimana proses ekstrasi buah adas dan pengguanaan pada objek ( tikus) dalam bentuk apa? saya tunggu balasan emailnya ya, Salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s