BRUXISM

Kasus III

Seorang ibu dari 2 orang anak umur 38 tahun mengeluhkan sering merasa nyeri tajam, pada region kiri maksila sejak 3 minggu yang lalu. Dia tidak bisa menunjukkan lokasi yang tepat gigi penyebab rasa nyeri. Rasa nyeri datang tiba – tiba, sehingga menyebabkannya terbangun di pagi hari. Sekarang rasa sakit terus menerus dengan intensitas naik turun. Rasa nyeri kambuh bila untuk mengunyah di sisi kiri dan untuk minum air dingin. Kondisi memburuk pada waktu malam ketika akan pergi tidur. Menurut keterangan dari suaminya pasien tersebut kerot (night grinding)ketika tidur. Tidak ada riwayat trauma pada muka atau leher dan tidak merasakan adanya keterbatasan gerakan rahang maupun klicking pada TMJ.

Pada pemeriksaan klinis:

Relasi oklusi Klas II Angle divisi I, gigi lengkap, tapi tampak adanya abrasi dan atrisi tonjol – tonjol gigi – gigi kaninus, premolar, dan molar. Hipersensitivitas ditemukan pada 3 buah gigi. Rasa nyeri tajam bila menggigit pada gigi molar dua kiri atas dan bawah, pada sondasi ditemukan adanya retak halus.

Buatlah resep untuk ibu tersebut untuk mengurangi rasa nyerinya. Menurut keterangan ibu tersebut menderita sakit tukak lambung.

DIAGNOSIS

– Pasien mengalami bruxism, menyebabkan abrasi dan atrisi pada tonjol gigi

– Rasa nyeri tajam dan kambuh-kambuhan menunjukan adanya hipersenstifitas dentin, hal ini juga ditunjukan dengan adanya retak halus pada saat sondasi.

-Tukak lambung menyebabkan asam lambung kembali ke mulut, sehingga dapat meningkatkan tingkat keasaman mulut.

URAIAN PENYAKIT

1.BRUXISM

Bruxism merupakan kebiasaan grinding (menggesek-gesekan gigi) ataupun clenching (mengatupkan rahang atas dan bawah kuat-kuat). Biasanya dilakukan secara tidak sadar ketika seseorang berada dalam situasi yang membuatnya merasa stres atau cemas, bahkan dapat pula dilakukan ketika sedang tidur. Kebiasaan bruxism yang parah dapat membuat email di permukaan kunyah gigi menjadi menipis bahkan bisa menimbulkan keretakan pada struktur gigi dan merusak tambalan gigi yang ada. Akibatnya gigi-gigi akan terasa linu ketika makan atau minum. Kondisi ini biasanya terjadi pada lebih dari satu gigi. Selain berpengaruh ke gigi, bruxism juga dapat menimbulkan gangguan pada sendi rahang, sakit kepala ketika bangun pagi, dan rasa sakit pada daerah wajah yang tidak jelas penyebabnya. Penderita bruxism disebut bruxers. Ada juga yang menyebutnya bruxomania.

ü  PENYEBAB BRUXISM                                                                                        .
*Stress
*Premature contact ataupun maloklusi                                                                  .
*Cedera pada otak                                                        .
*Gejala penyakit saraf dan otot wajah                                                                             .
*Efek samping obat-obatan psikiatrik (fluoxetine, sertraline dan paroxetine)                               .
*Rokok, alkohol, kafein

.

Penyebab bruxism tidak sepenuhnya dimengerti. Pada orang dewasa, faktor psikologi dianggap berperan. Faktor tersebut antara lain (MayoClinic,2007) :

  1. Kecemasan, ketegangan, dan stress.
  2. Kemarahan yang terpendam, atau frustrasi.
  3. Tipe kepribadian agresif, kompetitif, dan hiperaktif.

Sedang pada anak, bruxism dianggap berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan gigi serta rahang. Tetapi, beberapa ahli juga percaya bahwa faktor psikologi mempunyai andil terhadap timbulnya bruxism pada anak. Walaupun bruxism dilaporkan terjadi pada 30% anak, yang sebagian besar berusia di bawah 5 tahun, kebanyakan diantara mereka akan sembuh setelah gigi susu mereka berganti dengan gigi tetap (MayoClinic,2007).

Pada beberapa kasus, bruxism tidak disebabkan oleh keadaan psikologi atau kondisi gigi dan rahang, tetapi merupakan komplikasi dari kelainan seperti penyakit Huntington dan Parkinson. Beberapa obat antidepresi tertentu juga dapat menimbulkan efek samping bruxism, tetapi hal ini jarang terjadi. Biasanya, bruxism ringan dan tidak menimbulkan komplikasi serius. Tetapi pada beberapa orang, bruxism bisa berat sehingga menimbulkan :

  1. Kerusakan permukaan gigi akibat seringnya dan kuatnya gesekan.
  2. Gangguan sendi rahang
  3. Sakit kepala
  4. Nyeri wajah
  5. Terganggunya tidur orang di sekitarnya.
  6. dll

Tujuan pengobatan bruxism adalah mencegah kerusakan gigi lebih lanjut, mengurangi nyeri akibat bruxism, dan mengurangi perilaku mengadu gigi semaksimal mungkin (MedlinePlus,2006).

ü TERAPI
Terapi bruxism ada bermacam-macam tergantung dari penyebabnya:                             .
a.Stress:
Psikoterapi, teknik relaksasi, obat-obatan untuk relaksasi otot rahang. Apabila terapi konvensional ini tidak berhasil dapat dilakukan penyuntikan botulinum toxin (botox) untuk melemaskan otot rahang.                                .
b. Maloklusi ataupun premature contact: :
Occlusal adjustment, restorasi gigi (onlay atau crown), ortodontik.                                               .
c. Cedera otak atau penyakit saraf dan otot: :
Dengan terapi konvesional, apabila tidak berhasil dilakukan penyuntikan botox.
d. Obat-obatan psikiatrik: :
Mengganti obat ataupun menghentikan penggunaannya dan menggantinya dengan bentuk terapi yang lain.                                                                                                 .
e. Melindungi gigi dari kebiasaan bruxism .

bruxism attrition night guard, untuk mencegah kerusakan gigi akibat bruxism, dapat digunakan night guard. Night guard merupakan suatu plat yang dibuat untuk menutupi permukaan kunyah gigi. Alat ini dipakai ketika tidur untuk melindungi gigi dan menghentikan kebiasaan bruxism ketika tidur.                                                                .

Untuk mengurangi kerusakan gigi biasanya digunakan pelindung gigi. Alat ini terbuat dari bahan yang lunak. Dengan alat ini, gesekan langsung antar gigi atas dan bawah tidak terjadi.

Nyeri akibat bruxism dapat dikurangi antara lain dengan melakukan relaksasi dan pemijatan otot wajah dan rahang, bahu, dan leher, serta menghindari makanan yang keras seperti kacang-kacangan. Kompres dingin atau hangat juga dapat diberikan pada rahang yang membengkak.

Perilaku mengadu gigi atau bruxism kadangkala dapat dikurangi dengan manajemen stres, psikoterapi, mengubah perilaku (agresif, kompetitif, hiperaktif) dengan behaviour modification, biofeedback, dll.

2.HIPERSENSITIFITAS DENTIN

Hipersensitifitas dentin adalah rasa sakit (dentinalgia) terjadi pada dentin akar gigi yang terbuka karena adanya rangsangan dan luar seperti taktil, panas, dingin, kimiawi serta osmotik (Prijantojo, 1996). Khususnya di daerah yang kehilangan lapisan periodontal. Dentin hipersensitif dihubungkan dengan adanya abrasi ketika menggosok gigi, penyakit periodontal, erosi dari makanan atau asam lambung dan mungkin meningkatnya scalling dan perawatan akar. Hal ini terjadi karena kurangnya perlindungan dentin oleh sementum, hilangnya smear layer dan pergerakan hidrodinamik cairan di tubulus dentin. Apabila dilihat dari Scanning Electron Microscopy, permukaan dentin hipersensitif  terlihat banyak tubulus dentin yang terbuka, fraktur, dan permukaannya sangat halus (Cohen dan Hargreaves, 2006).

Terbukanya permukaan akar gigi ini memungkinkan terbukanya lapisan dentin akar gigi dan dapat terjadi tanpa terkikisnya lapisan semen, karena pada sekitar 5-10% gigi yang erupsi, dentin terbuka pada daerah cemento enamel junction (Prijantojo, 1996). Lapisan sementum yang tipis seringkali hilang seperti resesi gingiva yang mengakibatkan sementum terlihat ke lingkungan oral (Cohen dan Hargreaves, 2006).

Berdasarkan teori hidrodinamika dikemukakan bahwa rangsangan yang menyebabkan rasa sakit diteruskan ke pulpa dalam suatu mekanisme hidrodinamik yaitu pergerakan cairan secara cepat pada tubulus dentin. Gerakan cairan ini akan mengubah bentuk odontoblas atau prosesusnya sehingga menimbulkan rasa sakit (Markowit, 1990 sit. Prijantojo, 1996). Berkurangnya pergerakan cairan dalam tubulus dentin akan mengurangi rasa sakit yang akibat adanya rangsangan(Berman, 1984 sit. Prijantojo, 1996). Teori hidrodinamik diaplikasikan untuk pemahaman mekanisme terjadinya dentin hipersensitif (Cohen dan Hargreaves, 2006).

Meskipun awalnya dentin sangat sensitif, namun dalam beberapa minggu sensitivitasnya akan menurun. Penurunan sensitivitas ini terjadi akibat adanya deposit mineral di dalam tubulus secara berangsur-angsur (Cohen dan Hargreaves, 2006). Hal ini terjadi karena adanya desensitisasi hipersensitivitas dentin yaitu suatu usaha untuk menghilangkan atau mengurangi terjadinya rasa sakit akibat adanya rangsangan (Branstrom dan Astrom, 1973 sit. Prijantojo, 1996). Salah satu cara untuk menghambat pergerakan cairan dalam tubulus dentin adalah dengan cara merangsang mineralisasi dentin peritubuler sehingga saluran dalam tubulus dentin mengecil dan aliran cairan dalam tubulus dentin menjadi berkurang (Berman, 1984 sit. Prijantojo, 1996). Desensitisasi didasarkan atas teori yang menyatakan bahwa rangsangan melalui dentin yang terbuka, yang melebihi daya tahan fisiologis akan menimbulkan rasa sakit. Salah satu pertahanan fisiologis terhadap iritasi pulpa adalah terbentuknya dentin sekunder (Branstrom dan Astrom, 1973 sit. Prijantojo, 1996).

Di samping pembentukan dentin sekunder, kalsifikasi dentin peritubuler juga meningkat sehingga terjadi penyumbatan dentin peritubuler. Penyumbatan dentin peritubuler secara alamiah oleh kristal-kristal kalsium merupakan pertahanan fisiologis gigi untuk mengurangi hipersensitivitas dentin (Berman, 1984 sit. Prijantojo, 1996).

  • Ø TREATMENT

Penjelasan mengenai dentin sensitif belumlah jelas, berbagai perawatan untuk dentin sensitif belum ada metode yang sempurna. Memang, kebanyakan cara yang efisien untuk merawat dentin yang sensitive adalah dengan memblok tubulus dentinalis. Sehingga mencegah stimulus akhiran syaraf di pulpa. Paghambatan dapat dilakukan dengan berbagai cara material restorasi telah digunakan dengan berbagai hasil. Tapi pengenalan dari agen bonding hidrofilik menandai perkembangan adesi tubulus dentin. Berbagai jalur noninvasif yang telah ditemukan untuk menghambat tubulus dentinalis

Perawatan untuk gigi hipersensitif adalah dengan mengurangi diameter fungsional tubulus dentin untuk membatasi pergerakan cairan. Terdapat 4 contoh perawatan dibawah ini, yaitu :

  1. Formasi smear layer pada dentin sensitif mengkilapkan di permukaan akar yang terekspos.
  2. Mengaplikasikan agen tertentu seperti oksalat yang membentuk presipitasi yang tak terlarut dalam tubulus. Dalam percobaan klinis garam oksalat telah menunjukan metode yang paling bagus. Ion oksalat bereaksi dengan ion kalsium pada cairan dentin, menghasilkan presipitasi kalsium oksalat pada tubulus. Hal ini mengurangi diameter fungsional, sehingga membatasi pergerakan cairan. Ion potassium dapat mengurangi aktivitas syaraf dan sebaiknya ditambahkan untuk mendapatkan efek untuk preparasi.
  3. Mengaplikasikan agen seperti hydroxhyethyl methacrylate (HEMA) dengan atau tanpa glutaraldehyde yang melewati  tubulus dengan protein plasma yang terpresipitasi di cairan dentin.
  4. Mengaplikasikan agen bonding untuk melapisi tubulus

Dentin sensitif dapat dimodifikasi dengan irradiasi, namun perlu juga memperhatikan efeknya terhadap pulpa. (Cohen dan Hargreaves, 2006)

  • PENGARUH RESTORASI GIGI TERHADAP DENTIN

Ada beberapa anggapan bahwa gigi pasca perawatan endodontik akan menjadi rapuh karena menurunnya kekenyalan akibat kehilangan cairan di tubulus dentin setelah pulpa diangkat. Namun dari hasil penelitian anggapan ini tidak seluruhnya benar. Sampai penelitian terakhir tidak ditemukan adanya perbedaan yang nyata baik kekuatan, kekerasan, maupun ikatan kolagennya. Perbedaan kandungan cairan pada dentin vital dan pasca endodonsi tidak begitu terlihat, kecuali pada dentin gigi yang telah dirawat endodonsi selama lebih dari 10 tahun ( Walton dan Torabinejad, 1998).

Dalam penggunaan tumpatan, yang memerlukan asam etsa untuk meningkatkan perlekatan tumpatan pada dentin ternyata asam etsa yang berkontak tersebut dengan dentin dapat berpenetrasi ke dalam tubuli dentin secara tidak langsung. Asam dapat membuat dentin menjadi rapuh karena proses demineralisasi(Pashley, dkk, 1992)

Semen glass ionomer mampu menutupi tubuli dentin guna mencegah reaksi pulpa terhadap asam fosfat (Andreaus, 1987). Selain itu, glass ionomer juga membantu proses remineralisasi internal jika ditempatkan langsung di atas dentin (Donly dan Brown ,2007) Semen glass ionomer digunakan karena semen ini dapat berikatan secara fisikokomiawi baik pada email maupun pada dentin(Sidharta, 1991).

Aplikasi semen glass ionomer dianjurkan sebagai semen dasar sebelum aplikasi asam etsa pada restorasi resin komposit (Davidson dan Suzuki, 1999). Hal ini dilakukan karena glass ionomer dapat melapisi tubuli dentin sehingga mencegah sensitivitas gigi (Katsuyama, 1993).

3.Tukak Lambung

Tukak lambung atau Peptic Ulcer Disease (PUD) dapat diartikan sebagai luka pada lambung atau usus duodenum karena terjadi ketidakseimbangan antara faktor agresif seperti sekresi asam lambung, pepsin dan infeksi bakteri Helicobacter pylori dengan faktor defensif/faktor pelindung mukosa seperti produksi prostaglandin, gastric mucus, bikarbonat dan aliran darah mukosa. Singkatnya, tukak lambung merupakan suatu penyakit pada saluran pencernaan yang ditunjukkan dengan terjadinya kerusakan mukosa lambung bisa karena sekresi asam lambung berlebih, infeksi H. pylori, maupun produksi prostaglandin yang berkurang. Dari namanya, tukak lambung biasa terjadi di perut (lambung) dan usus duodenum proximal. Meskipun angka kejadiannya sedikit, tukak lambung dapat terjadi di esofagus bagian bawah, duodenum distal atau jejunum.

Infeksi bakteri H. pylori dan penggunaan obat anti inflamasi non steroid (NSAID) menjadi penyebab utama terjadinya tukak lambung. H. pylori merupakan bakteri gram negatif berbentuk spiral yang hidupnya pada bagian gastrum antrum. Bakteri ini bersifat patogen. H. pylori menghasilkan sitotoksin yang dapat memecah pertahanan mukus kemudian menempel di sel epitel lambung atau usus 12 jari. Di lambung, bakteri akan menghasilkan karbondioksida, amonia dan produk lain seperti protease, katalase, dan fosfolipase yang bersifat toksik. Produk-produk yang dihasilkan akan terakumulasi sehingga merusak pertahanan mukosa lambung dan menyebabkan ulcerasi atau tukak. Selain H. pylori, penggunaan obat NSAID (contohnya aspirin, piroxicam, ibuprofen, meloxicam, celecoxib, trisalicylate, dll) menjadi penyebab lain dari tukak lambung. Menurut Dipiro, obat NSAID dapat menyebabkan tukak lambung melalui 2 cara, mengiritasi epitelium lambung secara langsung atau melalui penghambatan sintesis prostaglandin. Namun, penghambatan sintesis prostaglandin merupakan faktor dominan penyebab tukak lambung oleh NSAID. Prostaglandin merupakan senyawa yang disintesis di mukosa lambung yang melindungi fungsi fisiologis tubuh seperti fungsi ginjal, homeostasis, dan mukosa lambung. Faktor lain yang memicu tukak lambung adalah kebiasaan merokok dan stress. Mekanisme yang terjadi belum diketahui pasti namun diduga produksi prostaglandin pada lambung dihambat sehingga perlindungan terhadap mukosa lambung berkurang dan resiko tukak meningkat. Stress dapat memicu tukak lambung karena dalam kondisi stress sangat dimungkinkan orang akan melakukan tindakan yang beresiko terjadinya tukak lambung seperti merokok, mengkonsumsi obat NSAID atau alkohol. Selain itu diperkirakan dalam kondisi stress, hormon adrenalin akan meningkat produksinya mengakibatkan produksi asam oleh reseptor asetilkolin meningkat pula, efeknya asam lambung pun juga meningkat.

ü  GEJALA

Secara umum, gejala tukak lambung yang dialami sama seperti yang sudah dijelaskan di atas antara lain rasa panas pada perut, sebah, mual, tidak tahan makanan berlemak, nyeri pada bagian ulu hati yang akan hilang setelah mengkonsumsi makanan. Selain terbangun di malam hari karena nyeri yang dirasakan, rasa nyeri di ulu hati yang hilang setelah mengkonsumsi makanan merupakan gejala spesifik pada tukak lambung yang dapat mempermudah diagnosis. Tanda-tanda seperti anemia, anoreksia maupun penurunan berat badan yang terjadi menunjukkan adanya komplikasi atau terdapat suatu penyakit berbahaya yang membutuhkan tes endoskopi segera.

ü  Terapi

Tujuan dari terapi tukak lambung adalah untuk mengurangi serta menetralkan asam lambung, menghilangkan faktor penyebab, meringankan atau menghilangkan nyeri epigastrik, mencegah kekambuhan, memperkuat sistem perlindungan mukosa, dan mencegah terjadinya komplikasi yang serius (hemoragi, perforasi, obstruksi). Sasaran dari terapi tukak lambung adalah faktor penyebab terjadinya tukak yaitu bakteri H. pylori dan asam lambung berlebih. Selain itu pertahanan mukosa juga menjadi sasaran terapi. Untuk mencapai tujuan terapi tersebut dapat dilakukan beberapa strategi dalam terapi, antara lain penggunaan obat untuk hipersekresi dan penetralan asam lambung, penggunaan obat yang memperkuat sistem perlindungan mukosa, penggunaan obat yang dapat mencegah senyawa pencetus dan faktor penyebab, penggunaan obat untuk menghilangkan nyeri epigastrik, penggunaan obat untuk mencegah kekambuhan dan penggunaan obat untuk mencegah komplikasi. Terapi yang digunakan ada 2 cara, yaitu terapi nonfarmakologis dan farmakologis. Untuk terapi nonfarmakologis dengan cara mengurangi atau menghilangkan stress, berhenti merokok dan menggunakan obat NSAID, menghindari makanan pencetus tukak seperti makanan pedas, kafein, dan alkohol. Apabila terjadi komplikasi dilakukan operasi. Sedangkan terapi farmakologisnya dapat menggunakan beberapa golongan obat yaitu, golongan Pompa Proton Inhibitor (PPI), Antagonis Reseptor Histamin H2, Sucralfate, Antasida, Analog Prostaglandin. Selain itu, kombinasi dua antibiotik dengan PPI untuk eradikasi (pembasmian) H. pylori. Sesuai dengan judulnya, artikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai obat golongan antasid. Sebelum lahirnya obat PPI dan Antagonis Reseptor Histamin H2, antasid digunakan untuk mengobati tukak lambung dan dispepsia (gangguan pencernaan). Hingga saat ini antasid masih digunakan untuk menghilangkan rasa panas dalam perut serta dispepsia. Antasid merupakan basa lemah yang bereaksi dengan asam lambung membentuk garam dan air. Selain menetralkan asam lambung, antasid juga meningkatkan pertahanan mukosa lambung dengan memicu produksi prostaglandin pada mukosa lambung. Obat antasid dapat digolongkan menjadi antasid dengan kandungan alumunium dan magnesium (alumunium hidroksida, magnesium hidroksida, trisilikat), antasid dengan kandungan natrium bikarbonat, antasid dengan kandungan bismuth dan kalsium. Simetikon ditambahkan pada antasid untuk meringankan rasa kembung.

Rencana Perawatan

–          Gigi yang retak ditambal oleh resin komposit, karena memiliki kekuatan yang baik

–          Diberikan obat pereda nyeri dan mengobati tukak lambung

–          Dibuatkan night guard untuk mencegah atrisi kembali, dipakai pada saat tidur

Obat pilihan

  1. 1. Danalgin

Dipilih karena mengandung metampiron yang memiliki efek Analgesic untuk mengurangi rasa sakit serta mengandung diazepam sebab memiliki efek sedative. Dipilih karena aman di konsumsi oleh pasien tukak lambung, tidak seperti asam mefenamat, asetosal (aspirin) yang kontra indikasi terhadap pasien tukak lambung.

Komposisi :
Tiap kaplet mengandung
Metampiron … 500 mg
Diazepam …….. 2 mg

Farmakologi :
DANALGIN bekerja sebagai analgetik dan tranquillizer.
Metampiron bekerja sebagai analgetik, diabsorpsi dari saluran pencernaan dan mempunyai waktu paruh 1 – 4 jam. Diazepam dimetabolisme terutama di hati dan terikat pada reseptor di daerah spinal cort, serebelum, sistem limbik dan korteks serebral. Mempunyai aktivitas sebagai ansiolitik dan hipnotik. Konsentrasi plasma puncak diazepam dicapai setelah 15-19 menit. Waktu paruh bervariasi antara 20-70 jam, tetapi metabolit aktif yang dominan yaitu desmetil diazepam mempunyai waktu paruh 30-100 jam. Waktu paruh diazepam dan desmetil diazepam biasanya meningkat pada neonatus, usia lanjut dan penderita dengan gangguan hati yang berat.

Indikasi:
Untuk meringankan rasa sakit sedang sampai berat terutama nyeri kolik dan sakit setelah operasi dimana diperlukan kombinasi dengan tranquillizer.

Kontra indikasi:

  • Penderita hipersensitif.
  • Bayi dibawah 6 bulan.
  • Wanita hamil dan menyusui.
  • Penderita dengan tekanan darah sistolik ‹ 100 mmHg.
  • Depresi pernapasan.
  • Gangguan pulmoner akut.
  • Glaukoma sudut sempit.
  • Keadaan psikosis akut.

Peringatan dan perhatian :

  • Jangan mengemudikan kendaraan atau menjalankan mesin selama minum obat ini.
  • Tidak untuk mengobati sakit otot pada gejala-gejala flu dan tidak untuk mengobati rematik, lumbago, sakit punggung, bursitis, sindroma bahu-lengan.
  • Karena dapat menimbulkan agranulositosis yang berakibat fatal, maka sebaiknya tidak digunakan dalam jangka panjang terus menerus.
  • Hati-hati pada penderita yang pernah mengalami gangguan pembentukan darah/kelainan darah, gangguan fungsi hati atau ginjal. Karena itu perlu dilakukan pemeriksaan uji fungsi hati dan darah pada penggunaan yang lebih lama dari penggunaan untuk mengatasi rasa sakit akut.
  • Hati-hati penggunaan pada penderita depresi berat atau yang mempunyai kecenderungan melakukan bunuh diri.
  • Obat ini dapat menyebabkan kelemahan otot dan ketergantungan secara fisik dan psikologis.
  • Hentikan pengobatan Jika terjadi reaksi-reaksi paradoksikal seperti keadaan-keadaan hipereksitasi akut, ansietas, halusinasi dan gangguan tidur.

Efek samping :

  • Reaksi hipersensitivitas : reaksi pada kulit misal kemerahan.
  • Mengantuk, ataksia, kelelahan.
  • Agranulositosis, konstipasi, depresi, diplopia, hipotensi, Jaundice, perubahan libido, mual, tremor, retensi urin, vertigo.

Interaksi obat:                                                         ,
Penggunaan bersama obat-obat depresan SSP atau alkohol dapat meningkatkan efek depresan.

Dosis:
Jika sakit 1 kaplet, berikutnya 1 kaplet tiap 6-8 jam, maksimum 4 kaplet sehari.

2.Antasida

Pasien memiliki riwayat tukak lambung, yang dikhawatirkan dapat menambah tingkat keasaman pada mulut apabila asam lambung naik.

Nama Dagang di Indonesia : Mylanta®/Mylanta Forte®

Indikasi

Gangguan pencernaan, rasa panas pada ulu hati, lambung perih, meredakan hiperasiditas yang berhubungan dengan tukak lambung, gastritis, esofagitis peptik & hernia hiatal; meredakan gejala kembung, nyeri perut akibat penimbunan gas pasca operasi. Untuk pemeriksaan endoskopi.

Kontra Indikasi

Pasien dengan gangguan ginjal

Dosis & Aturan Pakai

Tablet = 1-2 tablet, larutan = 1-2 sendok teh.

Larutan forte= 1-2 sendok teh.

Diberikan 4 kali sehari, 1 jam sesudah makan & sebelum tidur. Penggunaan tablet dengan cara dikunyah.

Efek Samping : Jarang terjadi (konstipasi, diare), hipofosfatemia (pemakaian jangka panjang).

Perhatian : Hiperkalsemia dapat terjadi pada pasien gagal ginjal yang mengkonsumsi > 4 gram/hari. Pasien dengan Clearance Creatinine < 30 ml/menit tidak boleh mengkonsumsi antasid yang mengandung magnesium karena ekskresi magnesium terganggu.

Interaksi antara Antasid dengan obat lain seperti suplemen yang mengandung besi, warfarin, digoksin, quinidin, isoniazid, ketokonazol, atau obat golongan fluoroquinolon dapat meningkatkan absorpsi dan ekskresi obat lain saat diberikan bersamaan. Untuk mencegahnya dilakukan pemisahan pemberian antasid dengan obat lain dengan selang waktu 2 jam.

ü PERESEPAN OBAT

Drg. Azixin

NIP. 058476474884

Klinik Konservasi RSGM FKG UGM

Jl. Denta no.1

08123456789

Yogyakarta, 21 November 2009

  1. R/ Danalgin 500 tabs mg No.X

S.p.r.n.tab I

2. R/ Mylanta forte ml 360 btl No.I

s.b.d.d.cth.ac.et.hs

Pro                   : Ibu Prapti

Umur               : 38 tahun

Alamat                        : Jl. Kaliurang KM. 4,5

Penulisan Etiket

1.danalgin

Apotik Dewi Dewi

Jl. Kaliurang Km.6  yogyakarta 0274-128765

No.1                                                      tgl.22/11/2010

Nama               : Ibu Prapti

Umur               : 38 tahun

Minum bila perlu 1 tablet

Apotik Dewi Dewi

Jl. Kaliurang Km.6  yogyakarta 0274-128765

No.2                                                      tgl.22/11/2010

Nama               : Ibu Prapti

Umur               : 38 tahun

2 x sehari, 1 sendok teh,  diminum sesudah makan dan sebelum tidur

2.mylanta forte

Daftar Pustaka

Andreaus, S.B. 1987. Liquid Versus Gel Etchants on Glass Ionomer : TheirEffects on Surface Morphology and Shear Bond Strengths to Composite Resins, JADA, 114, 157-158.

Cohen S, Hargreaves KM. 2006. Pathways of The Pulp Ninth Edition. Canada : Mosby Elsevier

Davidson, D.F. and Suzuki, M. 1999. A Prescription for the Succesful Use of Heavy Filled Composit in the Posterior Dentition. Journal Canada Dentistry Assosiation, 65, 256-260.

Donly KJ, Brown DJ. Identify, protect, and restore: emerging issues in approaching children’s oral health. Available at http://www.agd.org

MayoClinic (2007) : Bruxism/Teeth Grinding. Dikutip pada 18 Des 07. http://www.mayoclinic.com

MedlinePlus (2006) : Bruxism. Dikutip pada 18 Des 07. http://www.nlm.nih.gov

Pashley, D.H. and Michelich, V. 1992. Dentin Permeability : Effect of Smear Layer Removal. The Journal of Prosthetic Dentistry,46, 531-537.

Prijantojo. 1996. Evaluasi Klinis Perawatan Hipersensitivitas Dentin dengan Potasium Nitrat . Cermin Dunia Kedokteran.(109) ; 1996 ; 57.

Sidharta, W. 1991. Pengaruh Etsa dan Gerinda pada Semen Glass Ionomer Terhadap Ikatannya dengan Resin Komposit, Buku Naskah Ilmiah KPPIKG IX FKG UI, 105-164.

Walton RE, Torabinejad M. 1998. Principles and Practice of Endodontics. Philadelphia : Saunders Company.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s