PENGAMATAN KEADAAN EPITEL LIDAH, BUKAL, GINGIVA, PALATUM, DAN DASAR MULUT DENGAN PROSEDUR PEMBUATAN PREPARAT APUSAN

Laporan Tertulis

PENGAMATAN KEADAAN EPITEL LIDAH, BUKAL, GINGIVA, PALATUM, DAN DASAR MULUT DENGAN PROSEDUR PEMBUATAN PREPARAT APUSAN

disusun untuk

memenuhi persyaratan mata kuliah

ORAL BIOLOGY – II

KGH 3202

dibuat oleh:

Mawar Putri Julica

07/ 250270/ KG/ 08134

Kelompok : A-5

Fakultas Kedokteran Gigi

Universitas Gadjah Mada

2009

PENGAMATAN KEADAAN EPITEL LIDAH, BUKAL, GINGIVA, PALATUM, DAN DASAR MULUT DENGAN PROSEDUR PEMBUATAN PREPARAT APUSAN

MAWAR PUTRI JULICA

07/ 250270/ KG/ 08134

Laboratorium Biologi Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

INTISARI

Sebagai jaringan yang membentuk mukosa mulut, epithelium oral merupakan barrier primer antara lingkungan oral dengan bagian jaringan yang lebih dalam. Rongga mulut dilindungi oleh mukosa terdiri atas epitel skuamosa berlapis. Pada setiap lapisan terdapat sel-sel dengan bentuk yang berbeda dan memiliki gambaran struktural yang khas. Dengan melakukan pengetesan menggunakan cytobrush, dapat diketahui jumlah sel serta struktur normalnya agar bisa dibedakan dengan struktur epitel yang mengalami patologis. Untuk itu dilakukan pengamatan terhadap 100 buah sel yang tidak saling tumpang tindih pada preparat apusan epitel lidah, bukal, gingiva, palatum, dan dasar mulut, yang diambil secara random dalam beberapa lapang pandang. Kemudian dilakukan perhitungan jumlah sel basal-parabasal, sel intermediet, dan sel superfisial dari masing-masing preparat apusan. Pada preparat apusan Lingua ventral, bukal, gingiva, palatum durum, palatum durum dengan akrilik, lingua bagian tepi, dan bibir, rata-rata didapatkan jumlah sel yang mendominasi adalah sel intermediate dan paling sedikit adalah sel basal-parabasal

Kata kunci : epitel mukosa mulut, sel basal-parabasal, turn-over sel basal

PENDAHULUAN

Epitel oral adalah epitel skuamosa berlapis yang terdiri dari sel-sel yang melekat erat satu sama lain dan diatur dalam beberapa lapisan yang berbeda atau strata. Seperti epidermis dan lapisan saluran pencernaan, epitel oral mempertahankan integritas struktural oleh proses pembaharuan sel terus-menerus di mana sel-sel yang dihasilkan oleh pembelahan mitosis dalam lapisan terdalam bermigrasi ke permukaan untuk menggantikan sel yang membuka. Sel-sel epitel sehingga dapat dianggap terdiri dari dua fungsional populasi: populasi sel progenitor (fungsi yang membagi dan memberikan sel-sel baru) dan sebuah populasi sel matur (sel-sel yang terus-menerus mengalami proses diferensiasi atau pematangan untuk membentuk pelindung lapisan permukaan). 1

Pada setiap lapisan terdapat sel-sel dengan bentuk yang berbeda dan memiliki gambaran struktural yang khas. Pada lapisan basal terdapat sel-sel yang dapat membelah diri, sehingga dianggap sebagai bagian progenitor (asal) sel. Di atas lapisan basal terdapat beberapa lapis sel yang membentuk daerah sel yang matang atau yang berdiferensiasi. Sedangkan lapisan permukaan (superfisial) yang merupakan terminal diferensiasi terdiri dari sel-sel pipih.2

Gambar 1. Mukosa oral non keratinisasi (mukosa bucal) dilihat dengan mikroskop cahaya2

Mukosa mulut berdasarkan kondisi permukaannya, dapat dibedakan menjadi tipe non keratinised/ tidak mempunyai lapisan keratin, parakeratinised/ mempunyai lapisan keratin tipis yang beberapa selnya ada yang masih memiliki inti sel yang tidak sempurna, atau orthokeratinised/ mempunyai lapisan keratin tebal yang terdiri dari sel-sel yang sudah tidak berinti. Ketebalan lapisan keratin ini bervariasi sesuai regionya di rongga mulut. Lingua dan dasar mulut memiliki karakteristik epitel non-keratinisasi dan tipis, bukal memiliki karakteristik epitelnya tebal dan non-keratinisasi, sedangkan ginggiva dan palatum durum memiliki  karakteristik epitel tebal dan mengalami keratinisasi.2

Keratinisasi dimulai dari sel basal yang kuboid, bermitosis ke atas berubah bentuk lebih poligonal yaitu sel spinosum, terangkat lebih ke atas menjadi lebih gepeng, dan bergranula menjadi sel granulosum. Kemudian sel tersebut terangkat ke atas lebih gepeng, dan granula serta intinya hilang menjadi sel spinosum dan akhirnya sampai di permukaan kulit menjadi sel yang mati, protoplasmanya mengering menjadi keras, gepeng, tanpa inti yang disebut sel tanduk. Sel tanduk secara kontinu lepas dari permukaan kulit dan diganti oleh sel yang terletak di bawahnya. Pada kondisi normal, jumlah sel yang hilang pada lapisan superfisial seimbang dengan jumlah sel baru hasil mitosis dari sel basal. Proses keratinisasi sel dari sel basal sampai sel tanduk berlangsung selama 14-21 hari.3,4,5

Pada praktikum ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami dan melakukan prosedur pembuatan preparat apusan  epitel lidah, bukal, gingiva, palatum, dan dasar mulut untuk mengamati keadaan epitel subyek dalam keadaan normal ataupun pada kondisi patologis.

BAHAN DAN CARA

A.Bahan dan Alat

  1. Bahan pengecatan Papanicolau
  2. Aquades/NaCl   0.9%
  3. Alkohol  96%
Gambar 2. Biopsi  menggunakan cytobrush6

Cytobrush

  1. Gelas obyek
  2. Glass cover slip
  3. Staining jar
  4. Mikroskop cahaya
  5. Handy tally counter


B. Cara Kerja

Pada saat pembuatan preparat apusan epitel lidah, bukal, gingiva, dan palatum. Gelas obyek diberi identitas sesuai dengan jenis epitelnya.Cytobrush dibasahi dengan aquades lalu dilakukan usapan memutar pada daerah yang ditentukan. Hasil usapan segera diusapkan pada gelas obyek secara merata kemudian direndam dalam alkohol 96% untuk difiksasi.

Ketika pengecatan gelas obyek direndam dalam alkohol 90%, 80%, 70%, 50%, 30%, dan aquades untuk rehidrasi selama 1 menit dalam tiap-tiap larutan. Gelas obyek direndam dalam larutan Harri’s haematoxylin selama 5 menit, kemudian dicuci di bawah air mengalir selama 10 menit.

Setelah itu dilakukan dehidrasi dengan merendam gelas obyek dalam alkohol 30%, 50%, 70%, 80%, 90%, dan 96%, masing-masing selama 1 menit. Gelas obyek diletakkan di atas alas datar, kemudian diteteskan zat warna Orange G-6 dan dibiarkan selama 3 menit. Gelas obyek dibilas dengan alkohol 96% sebanyak 3 kali setelah itu dilakukan pemulasan dengan zat warna E.A.50 dan dibiarkan 6 menit. Kemudian dilakukan pembilasan lagi dengan alkohol 96% sebanyak 3 kali.

Gelas obyek dimasukkan dalam alkohol absolut 3 kali berturut-turut masing-masing selama 3 menit, kemudian diusap dengan menggunakan kertas saring sampai kering. Kemudian, gelas obyek dimasukkan ke dalam larutan Xylol I, II, III, masing-masing selama 5 menit. Terakhir dilakukan mounting dengan balsam Canada, kemudian diamati di bawah mikroskop cahaya.

Pada saat dikerjakan interpretasi hasil, preparat diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 400x. Pengamatan dilakukan terhadap 100 buah sel yang tidak saling tumpang tindih, yang diambil secara random pada beberapa lapang pandang, yaitu sel basal-parabasal, sel intermediate, dan sel superfisial, menggunakan kriteria menurut Naib (1970).

HASIL PENGAMATAN

Sel                                                     sel

Superfisial                                     intermediet

sel basal

Hasil penghitungan jumlah sel epitel pada preparat apusan:

No Epitel Jumlah Total
Sel Basal-Parabasal Sel Intermediate Sel Superfisial
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Lingua ventral

Bukal

Gingiva

Palatum durum

Palatum durum dengan akrilik

Lingua bagian tepi

Bibir

19

22

19

8

8

15

19

46

51

55

58

63

52

49

35

27

25

34

29

23

32

100

100

100

100

100

100

100

PEMBAHASAN

Dari hasil praktikum, didapatkan jumlah sel yang berbeda-beda pada setiap lapisan epitelium mukosa rongga mulut. Pada epitel Lingua ventral, bukal, gingiva, palatum durum, palatum durum dengan akrilik, lingua bagian tepi, dan bibir, rata-rata didapatkan jumlah sel terbanyak adalah sel intermediate dan paling sedikit adalah sel basal-parabasal.

Pengetesan exfoliated cytologic dengan menggunakan cytobrush banyak digunakan untuk pengetesan displasia, pengecekan dini squamous cell carcinoma, infeksi akibat herpes, serta mengidentifikasi lesi-lesi lain. Pada individu normal Sel intermediet dan  sel suprafisial merupakan sel mayoritas pada hasil tes oral smear. Sel parabasal akan banyak muncul apabila terdapat ulserasi.8

I Sel intermediet bervariasi dalam ukuran dan bentuk, tapi biasanya memiliki diameter dua sampai tiga kali bahwa dari sel parabasal. Banyak cytologists mengklasifikasi sel-sel ini menjadi: sel intermediet kecil dengan bentuk hampir bulat atau bentuk oval dengan inti besar kemudian sel intermediet besar: bentuk poligonal dengan nukleus kecil.9

Sel superfisial merupakan sel yang paling besar (1600μm2). Ada beberapa sel superfisial yang intinya piknotik (kecil dan gelap). inti sel superfisial berukuran  20μm2. Sel superfisial pada preparat apusan berbentuk poligonal dengan inti kecil dan bulat yang terletak di tengah. Sitoplasmanya sedikit terang, berbatas tegas, dan tercat merah (asidofilik atau eosinofilik).7 Sel skuamosa intermediate tampak berbentuk polygonal berukuran 800 – 1200μm2 dengan inti yang terletak di tengah. Ukuran selnya bervariasi tergantung lokasinya pada epithelium sedangkan ukuran intinya relatif konstan. Sitoplasmanya tercat biru muda pada preparat PAP smear. Inti sel intermediate berbentuk vesikuler dengan ukuran 35 μm2.

Sel basal berbentuk bulat atau oval dan berukuran kira-kira 200 μm2. Sitoplasmanya tercat biru-hijau sedangkan intinya yang terletak di tengah berukuran 50μm2 dan berwarna kebiru-biruan. Di atas sel-sel basal terdapat 2-3 lapisan sel parabasal yang berbentuk seperti sel basal tetapi sitoplasmanya yang sedikit lebih terang dari sel basal. Sel parabasal jarang ditemukan pada apusan epitel yang normal. Namun, pada kasus kerusakan epitel, seperti disebabkan oleh inflamasi atau trauma mekanis, sel-sel parabasal mungkin dijumpai8

Sel epithelial baru diproduksi dengan proses mitosis pada lapisan basal, beberapa sel basal dan sel superfisial dipaksa keluar dan nantinya akan sampai di permukaan. Secara sederhana, pergantian sel dalam suatu jaringan adalah proses pembentukan sel dimana diimbangi oleh hilangnya sel.10 Proses ini disebut proses turn-over, Secara garis besar proses turn-over pada rongga mulut lebih cepat dibandingkan kulit tubuh lainnya (waktu turn-over kulit 27 hari). sel nonkeratinisasi memiliki waktu turn-over yang lebih cepat. Palatum durum mengalami turn-over 24 hari.Bagian dasar mulut selama 20 hari, bagian bukal dan labial selama 14 hari, attached gingiva selama 10 hari dan taste buds selama 10 hari.7

Pada regio lidah diliputi oleh epitel yang spesifik dengan bermacam-macam bentuk papila. Bila epitel lidah dikenai rangsangan mekanis atau kimiawi, maka sebagai proteksi terhadap jaringan dibawahnya diperlihatkan proses degenerasi atau keratinisasi. Perubahan pola histologi pada lidah terjadi karena lidah peka terhadap badan karsinogenik.11 Pergantian sel dalam epitel oral mungkin suatu proses perbaikan yang disebabkan oleh trauma. Namun, tingkat pergantian sel dapat diubah oleh beberapa pengaruh internal (misalnya, hormon) maupun oleh faktor-faktor dalam lingkungan eksternal (misalnya, suhu, memberi makan). Perubahan dari tingkat turnover yang dapat ditampilkan oleh perubahan dalam aktivitas mitosis, atau dalam ukuran populasi sel epitel. Dengan demikian, berbeda dengan jaringan non-keratinisasi, arsitektur yang selalu konstan, gambaran histologis epitel mengalami pembaruan yang mungkin berbeda dengan faktor yang saling mengendalikan selnya.12

Dari ketujuh regio mukosa yang diamati pada praktikum ini menunjukkan jumlah sel basal-parabasal tidak sebanyak sel superficial dan intermediet. Sehingga dapat disimpulkan probandus normal dan tidak dalam kondisi inflamasi kronis atau patologis. Pada kondisi patologis seperti pada karsinoma mulut, kemunculan sel di permukaan berdasarkan lokasi sel pada karsinoma mulut7

Palatum durum, gingiva, lingua bagian dorsal Sel matur, terdapat banyak kornifikasi dan beberapa sel tanpa nukleus
Mukosa Bukal dan labial Sel matur sebagian , nucleus basofilic dan cel tercat asidofilic
Dasar mulut, linguabagian ventral,palatum mole Sel matur sedikit, terdapat sel basophilic dengan inti nukleus berukuran besar.

Untuk menentukan apakah suatu epitel berada dalam kondisi patologis atau tidak, tidak cukup hanya dengan menghitung jumlah sel pada setiap lapisannya. Kondisi patologis juga dapat ditunjukkan peningkatan sel basal dan ukuran nukleus terbukti berhubungan dengan lesi yang memiliki risiko tinggi berubah ganas, seperti pada penilaian displasia epitel..13

pada prosedur pembuatan preparat apusan, pengecatan dengan papaniculou stain atau metode pap-smear , pewarna haematoxylin digunakan untuk mewarnai nukleus sel, pewarna Orange-G 6 sebagai counterstain digunakan untuk mewarnai keratin, counterstain sekunder adalah EA (Eosin Azure), contoh EA-36, EA-50, EA-65. EA mewarnai bagian sel epitel skuamos bagian superfisial, nucleoli, silia, sel darah merah. fiksasi alkohol dilakukan untuk mempertahankan bentuk jaringan, agar perubahan stuktur sel atau jaringan kemungkinan terjadinya kecil, sedangkan dehidrasi bertujuan agar jaringan atau sel mudah tepoles oleh parafin atau selodin sehingga sel lebih kontras dan mudah dilihat.14,15

KESIMPULAN

  • Untuk mengetahui normal atau tidaknya keadaan rongga mulut, diperlukan suatu preparat apusan yang dibuat dengan metode yang benar sehingga dapat memberikan suatu gambaran yang tepat.
  • Pada kondisi inflamasi atau patologis dapat terjadi berbagai macam perubahan, seperti perubahan jumlah sel epitel, serta perubahan ukuran sel dan inti sel.

DAFTAR PUSTAKA

1Nanci A. 2008. Ten Cate’s Oral Histology. Development, Structure and Function. 7th Ed. St Louis: Mosby Elsevier

2Chandra,S and Chandra,M  .2004.Dental and Oral Histology and Embryology with MCQs. New Delhi: Jaypee Brothers Publishers,

3Wasiaatmaja, Syarif M. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: UI Press

4Avery, James K., Steele, Pauline F., Avery, Nancy. 2002. Oral Development and Histology. 3rd edition. New York: Thieme Medical Publisher.

5Barasch, A.  Risk Factors for Ulcerative Oral Mucositis in Cancer Patients: Unanswered Questions. Oral Oncology, 2003; (39): 91.

6Silverman, Sol. 2003.Oral Cancer, 5th edition .Ontario: American Cancer Society.

7Balogh, M.B. and Fehrenbach, M.J. 2006. Dental embryology, Histology and Anatomy. St.Louis: Elseiver Inc.

8Ramzy, Ibrahim. 2000. Clinical Cytopathology and Aspiration Biopsy: Fundamental Principles and Practice, 2nd Edition., United States Of America : McGraw-Hill Professional.

9Bowen R., 1998. Classification of Vaginal Epithelial Cells http://www.vivo.colostate.edu/hbooks/pathphys/reprod/vc/cells.html diakses tangal:17 oktober 2009

10Melfi, Rudy C., Alley, Keith E.,  Permar, 2000. Dorothy Permar’s Oral Embryology And Microscopic Anatomy: A Textbook For Students In Dental Hygiene Oral Embryology & Microscopic Anatomy . Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

11Wahyudi, Ivan, A., Astuti, Indwiani , dan Sunarintyas, Siti. Pengaruh Pemakaian Karbamid Peroksida 10% sebagai Pemutih pada Perokok terhadap Perubahan Gemma gustatoria dan Ketebalan Epitel Lidah (Kajian Histologis pada Rattus Norvegicus). Sains Kesehatan, 2005; 18(1): 112.

12Hooper, C. E. Stevens. Cell Turnover In Epithelial Populations. The Journal of Histochemistry & Cytochemistry, 1956; 4 (6) : 531.

13Shabana / A.H., et al.Morphometric Analysis Of Basal Cell Layer In Oral Premalignant White Lesions And Squamous Cell Carcinoma. Journals Clinical Pathology, 1987; 40(4) : 454–458.

14Naigaonkar, A. V. 2008. A Manual Of Medical Laboratory. Mumbai: Pragati Books Pvt. Ltd.

15Boon, Mathilde E., Suurmeijer, Albert J. H. 1996. The Pap Smear,3rd edition. Amsterdam: Harwood Academic Publishers GmbH.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s