DOKTER BALIK MODALNYA KAPAN?

Kata-kata balik modal itu mungkin akan terdengar pas di telinga kita jika yang bicara merupakan seorang pedagang atau pengusaha yang berhubungan dengan barang dagangan. dan kata-kata itu akan sangat pas sekali di dukung dengan adanya perhitungan ekonomis balik modal dapat dicapai dalam beberapa tahun, seingat saya pernah menghitungnya di pelajaran ekonomi sewaktu smp.

Apa yang terjadi bila seorang dokter yang memiliki anggapan “balik modal” di kepalanya. memang menjadi dokter sekarang ini tidak murah, apalagi seorang dokter gigi yang diwajibkan membeli peralatan-peralatan yang harganya tidak murah untuk keberlangsungan proses prakteknya, dan logis apabila di rumah orang tuanya sudah bertaruh semua yang mereka miliki untuk menyokong anaknya menjadi dokter, walau pada kenyataan sekarang justru banyak anak yang berada yang bisa menjadi dokter. namun persepsi balik modal itu melekat di kepala hampir sebagian besar dokter. Tentu hal ini memiliki dampak negatif, jelas sekali kita bisa lihat di masyarakat bagaimana ratio jumlah dokter di kota dan dokter yang mau berpraktek di daerah terpencil. dimana lagi jiwa seorang dokter yang  dulu kita lihat di film2 jaman dulu, mereka tinggal di daerah terpencil mengabdikan dirinya. berapa banyak jumlah dokter di indonesia yang mau membuka prakteknya di daerah yang tergolong terpencil apa lagi yang sangat terpencil dimana listrik dan air belum ada.

Tentu ada  yang salah pada bangsa kita, dimana letak kesalahannya itu, apakah karena doktrin yang salah, apakah karena biaya sekolah yang tidak murah, bayangkan saja apakah keluarga sederhana yang berpenghasilan 5 juta sebulan dengan 3 orang anak menyekolahkan anaknya di universitas X yang biaya masuknya bisa mencapai 90juta untuk menjasdi dokter dan dengan uang semester mencapai belasan juta. ini yang namanya negara merdeka, dimana pendidikan dokter sebegitu mahalnya. walaupun di universitas negeri masih ada juga yang menyediakan fasilitas Rp.O dari masuk hingga lulus untuk menjadi dokter, tapi ada berapa banyak yang seperti itu.

hati saya miris mendengar cerita dosen saya ketika ada anak yang kurang mampu mendapat  beasiswa hingga bebas biaya hingga lulus namun tetap pergi menghadap beliau dan berkata anaknya tidak mampu kuliah karena orang tuanya tidak mampu memberikan uang kos dan uang makan kepada anaknya tersebut. bayangkan jika anak itu koas nanti jika saja dia dokter gigi apakah dia mampu membayari pasien (tidak usah tutup mata terhadap fakta yang ada bahwa hidup koas jauh lebih keras secara mental maupun materi)

ada yang salah  dengan sistem di negeri kata, apa yang dapat kita lakukan hanya berkacamata kah, adakah yang  masih peduli terhadap sistem pendidikan ini, dimana si kaya bisa dengan mudah masuk universitas yang dia inginkan. apakah sekarang uang lebih berbicara daripada kemampuan seseorang….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s