PENGARUH STIMULASI BERKUMUR, MENGUNYAH, DAN ASAM SITRUN TERHADAP SEKRESI & pH SALIVA

Laporan Tertulis

PENGARUH STIMULASI BERKUMUR, MENGUNYAH, DAN ASAM SITRUN TERHADAP SEKRESI & pH SALIVA

disusun untuk

memenuhi persyaratan mata kuliah

ORAL BIOLOGY – III

KGH 3203

dibuat oleh:

Mawar Putri Julica

07/ 250270/ KG/ 08134

Kelompok : B-5

Fakultas Kedokteran Gigi

Universitas Gadjah Mada

2010

PENGARUH STIMULASI BERKUMUR, MENGUNYAH, DAN ASAM SITRUN TERHADAP SEKRESI & pH SALIVA

Mawar Putri Julica

07/250270/KG/08134

Laboratorium Biologi Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

9 Maret 2010

ABSTRACT

Objectives: Saliva plays a critical role in oral homeostasis, as it modulates the ecosystem within the oral cavity.The Salivary flow rate and composition are influenced by the type of taste and kind of stimuli. The stimulation can be either intra-oral, such as taste or mechanical stimulation, or extra-oral, such as odors or expectations. Aim of this experiment was to understand how did gargling and chewing influence the salivary secretion.

Methods:We determined the salivary flow rates and pH of saliva in 8 healthy subjects when Unstimulated and while stimulated by various stimulations; gargling, chewing, and citric acid. In this study we use ph meter to measure ph and single use syringe to measure the volume.

Results:The result show that shows that the nature of the saliva can change referred to its secretion and pH dependent-stimuli. during  salivary secretion it gets the lowest results without stimulation (0.72 ml / min) and highest at stimulation with citric acid (1.4 ml / min). the highest pH at apple mastication (8.6) and lowest in the citric acid (8,07)

Conclusions:There are differences in the average saliva secretion rate per minute before stimulation and after stimulation.

Keyword(s) : salivary secretion, flow rate , pH, mechanical stimulus, citric acid stimulus

PENDAHULUAN

Saliva adalah cairan yang terdapat dalam rongga mulut yang mengandung bakteri mulut, sisa makanan dan sel-sel epitel yang terdeskuamasi.  Saliva disekresi dari glandula saliva mayor dan minor bersama – sama dengan ginggival crevicular fluid(GCF), merupakan cairan oral atau keseluruhan saliva yang menyediakan lingkungan kimiawi dari gigi dan jaringan lunak rongga mulut.1 Komponen saliva terdiri dari beberapa macam elektrolit seperti kalsium, bikarbonat, fosfat dan magnesium. Selain itu saliva mengandung komponen protein atau organik seperti immunoglobulin, enzim, musin, serta produk yang mengandung nitrogen seperti ammonia dan urea.2

Fungsi saliva adalah sebagai lubrikasi, pelindung, buffering action, pembersih, anti pelarut dan antibakteri serta berperan dalam proses pengecapan dan pencernaan dengan bantuan enzim amilase. Faktor yang ada dalam saliva yang berhubungan dengan karies antara lain adalah aksi penyangga dari saliva, komposisi kimiawi, aliran (flow), viskositas dan faktor anti bakteri 2,3

Terdapat berbagai macam sel yang bertanggung jawab dalam proses sekresi saliva, diantaranya sel acinar, intercalated duct cells, striated duct cells dan main excretory duct cells. Pada sel asinar glandula terdapat dua tipe sel non-secretotry, yaitu sel myoepithelial yang bertanggung jawab pada pemindahan sekresi saliva dari sel asinar ke sistem ductus, dan sel saraf (nerve cells) yang menstimulus sekresi saliva.4

Kontribusi dari setiap glandula dan komposisi cairan sekresi cukup bervariasi, tergantung umur, jenis kelamin, waktu, dan diet; yang juga penting adalah tipe, intensitas, dan durasi stimulus. Dan dari kesemuanya, factor yang paling penting dalam mempengaruhi komposisi saliva adalah aliran saliva (flow rate)4. Hasil dari berbagai penelitian menunjukan iklim dapat mempengaruhi laju aliran saliva, selain itu, variasi mengenai tinggi badan, gizi, status kesehatan juga telah menunjukan pengaruh5,6. Kecepatan sekresi (flow rate) bervariasi dari hampir tidak dapat diukur pada waktu tidur sampai 3-4 ml/menit pada stimulasi maksimal. Kelenjar saliva dapat dirangsang dengan beberapa cara, yaitu :

  • Ø Mekanis, misalnya mengunyah makanan keras atau permen karet;
  • Ø Kimiawi, oleh rangsangan rasa seperti asam, manis, asin, pahit, pedas;
  • Ø Neuronal, melalui sistem syaraf autonom, baik simpatis maupun parasimpatis;
  • Ø Psikis, stress menghambat sekresi, ketegangan dan kemarahan dapat menjadi stimulasi
  • Ø Rangsangan rasa sakit, seperti  radang, gingivitis, dan protesa dapat menstimulasi sekresi.7

Tabel 1. Ketergantungan kecepatan sekresi (ml/menit) parotis dan submandibularis/sublingualis terhadap sifat stiumulasi

Stimulasi Gld.parotis Gld. SM/SL Jumlah
Tanpa stimulasi 0,1 0,2 0,3
Daya pengunyahan 0,6 0,25 0,85
Asam sitrun 0,8 0,9 1,7
Mentol 0,5 0,8 1,3

Sumber : Amerongen, 1991

Laju aliran saliva (salivary flow rate= SFR) dalam individu yang sehat dapat bervariasi sesuai dengan faktor-faktor yang berbeda. Korelasi antara SFR dalam periode gigi decidui, gigi campuran atau gigi permanen tidak ditemukan juga8. Pada salah satu penelitian mengenai aliran saliva yang dirangsang dengan asam, stimulasi mekanik dari bahan makanan buatan (chewing inert materials), atau mengunyah makanan alami (natural foods), ditemukan bahwa Konsistensi dan volume makanan akan mempengaruhi aliran saliva9. Rata-rata aliran saliva mencapai maksimum saat distimulasi dengan asam sitrun9. Merokok juga dapat mempengaruhi aliran saliva; ditemukan bahwa pada perokok, aliran saliva lebih banyak dibanding yang non-perokok 10 .

Cairan sekresi eksokrin, seperti urine dan saliva mempunyai derajat asam (pH) yang berbeda-beda dan tergantung banyak hal, antara lain kecepatan sekresi. pH saliva total yang tidak dirangsang biasanya agak asam, bervariasi dari 6,4 – 6,9. Penurunan pH pada saliva (waktu istirahat) paling jelas terlihat pada glandula parotis7. Beberapa faktor yang mempengaruhi pH saliva : irama siang dan malam, diet, perangsangan kecepatan sekresi7.

Praktikum ini dilaksanakan agar praktikan mampu memahami pengaruh rangsang mekanik (berkumur dan mengunyah) dan rangsang kimiawi (asam sitrun) terhadap sekresi saliva dan derajat keasamannya (pH).

BAHAN DAN CARA

Pada percobaan ini, kami menggunakan saliva 8 orang probandus sebagai subjek penelitian. Sebagai bahan berkumur, kami menggunakan aquabides distilled water dan menggunakan pot sebagai penampung saliva. Selain peralatan diatas, kami menggunakan pH meter untuk mengukur pH, single-use syringe untuk mengukur volume saliva, stopwatch sebagai pengukur waktu, kertas saring dan buah apel, pisang dan asam sitrun sebagai stimulator. Sebelum percobaan dilakukan, praktikan dianjurkan mencatat waktu makan terakhir probandus dan waktu memulai percobaan. Percobaan berikutnya dilakukan  setelah 15 menit dari percobaan sebelumnya dan selama pengumpulan saliva posisi probandus berdiri tegak lurus engan lantai.

Pada pengukuran saliva tanpa stimulasi, saliva dikumpulkan di dalam rongga mulut selama lima menit. Setelah lima menit, volume saliva yang tertampung diukur dengan syringe secara aspirasi. Segera setelah  volume dibaca, dituangkan kembali ke dalam pot penampung untuk diukur derajat keasaman saliva dengan menggunakan pH meter

Pengukuran saliva dengan stimulasi berkumur, probandus berkumur dengan aquabides sebanyak 10 ml selama 1 menit. Air kumuran dibuang dan saliva dikeluarkan selama 1 menit dan ditampung ke dalam pot saliva. Untuk pengukuran volume dan pH saliva, prosedur pengukuran dilakukan seperti langkah diatas.

Pada pengukuran saliva dengan stimulasi mastikasi, probandus mengunyah apel atau pisang selama 5 menit. Kemudian saliva di keluarkan selama 10 detik. Setelah saliva ditampung dalam pot, dilanjutkan dengan mengukur volume dan pHnya dengan prosedur yang sama.

Selanjutnya, pengukuran saliva dengan stimulasi gustatori dengan asam sitrun Probandus berkumur dengan aquabides sebanyak 10 ml selama 1 menit. Air kumuran dibuang, kemudian lidah probandus ditetesi dengan asam sitrun hingga timbul sensasi pengecapan. Kemudian saliva dibuang. Probandus berdiri tegak lurus terhadap lantai lagi dan saliva dikumpulkan di dalam pot selama 1 menit, kemudian volumenya dan pH-nya diukur. Semua data dicatat, kemudian praktikan menghitung rerata volume & pH saliva dan menganalisis hasilnya.

HASIL PENGAMATAN

Tabel. Hasil rerata pengukuran volume dan Ph saliva yang distimulasi dan tanpa stimulasi

TANPA STIMULASI STIMULASI
Berkumur Makan apel Makan pisang Asam sitrun
Volume (ml) 3,6

(5 menit)

0,72

(1 menit)

1,37

(1 menit)

0,75

(1 menit)

0,9

(1 menit)

1,4

(1 menit)

pH 8,35 8,42 8,6 8,4 8,07

PEMBAHASAN

Kapasitas buffer saliva merupakan faktor penting, yang memainkan peran dalam pemeliharaan pH saliva, dan remineralisasi gigi. Kapasitas buffer saliva pada dasarnya tergantung pada konsentrasi bikarbonat .hal itu berkorelasi dengan laju aliran saliva, pada saat laju aliran saliva menurun cenderung untuk menurunkan kapasitas buffer dan meningkatkan resiko perkembangan karies11.

Dari hasil pengamatan di dapatkan bahwa rata-rata volume saliva tertinggi di dapatkan setelah mendapat stimulasi dengan asam sitrun (1,4 ml/menit) sedangkan rata-rata volume saliva terendah terjadi pada saat tanpa stimulasi/ kontrol (0,72 ml/menit) . Hasil yang di dapatkan pada percobaan ini menguatkan teori bahwa stimuli asam dapat meningkatkan sekresi saliva secara signifikan. Selain itu, komposisi dan jumlah saliva yang dihasilkan memang cukup bergantung pada tipe dan intensitas stimulus, pada stimulus asam sitrun volume/ kapasitas sekresi saliva memiliki volume tertinggi dibandingkan yang lain. (tanpa stimulasi: 0,4 ml/menit12; daya pengunyahan: 0,85 ml/menit7; asam sitrun: 1,7 ml/menit7,12).

Pada percobaan dengan stimulus berkumur aliran saliva yang dihasilkan memiliki nilai yang sama (1,37 ml/menit). Kemudian, pada stimulus dengan buah pisang (0,9 ml/menit), nilai ini menjadi lebih rendah pada saat stimulus apel (0,75 ml/menit). Pada teori sebelumnya menyebutkan bahwa produksi saliva dapat dirangsang oleh berbagai stimulus, termasuk stimulus mekanik yaitu berkumur dan mengunyah. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan nilai antara aliran saliva yang tanpa stimulasi dengan yang distimulasi secara mekanik pada percobaan kali ini (lihat tabel hasil). Konsistensi dan volume makanan juga berpengaruh terhadap aliran saliva9. Makanan yang membutuhkan daya kunyah besar atau makanan yang rasanya cukup mencolok dapat meningkatkan aliran saliva dan juga mengubah komposisinya13. Dalam hal ini, pisang dan apel mengandung rasa yang akan menstimulasi pusat saliva untuk mensekresi saliva lebih banyak dibandinkan kondisi yang tidak distimulasi. Kemudian, karena konsistensi pisang yang lebih lunak dibanding apel, wajar saja jika aliran saliva pemakan pisang lebih rendah dibandingkan dengan pemakan apel. Namun, jika dibandingkan dengan stimulasi asam, aliran saliva dengan stimulasi mekanik tidaklah sebesar nilai stimulasi asam sitrun. Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa stimuli asam merupakan stimulator kuat dalam sekresi saliva dibanding dengan stimuli sukrosa14.

Derajat keasaman (pH) saliva sangatlah bervariasi antara individu satu dengan individu lainnya. Pada diet yang mengandung karbohidrat akan menyebabkan turunnya pH saliva yang dapat mempercepat terjadinya demineralisasi enamel gigi. Sepuluh menit setelah makan karbohidrat akan dihasilkan asam melalui proses glikolisis dan pH dapat menurun sampai di bawah pH kritis15. Normalnya sekresi harian saliva perhari 1,5 liter dengan pH sedikit basa (7,4)16. Hasil praktikum menunjukkan pH saliva yang tidak distimulasi bernilai 8,35. Nilai ini masih termasuk normal mengingat banyak variable tidak terkedali dalam percobaan ini, misalnya saja ada beberapa probandus yang baru saja makan, sehingga terjadi peningkatan pH sesaat. Kemudian setelah distimulasi, ternyata terjadi peningkatan pH (pH berkumur: 8,42; pH makan apel : 8,6; pH pada stimulasi makan pisang = 7, 13) dan terjadi penurunan pH pada stimulus dengan asam sitrun (8,07). Pada dasarnya, kecepatan sekresi saliva langsung mempengaruhi derajat keasaman saliva dalam mulut. Dari hasil praktikum, hal tersebut dapat dibenarkan (jika aliran saliva meningkat, maka nilai pH juga meningkat). Akan tetapi hal ini tidak berlaku pada nilai pH saliva yang distimulasi dengan asam sitrun. Meski aliran saliva maksimal dicapai oleh stimulasi dengan asam sitrun dan sebaliknya minimum dengan stimulus manis17. Namun pH saliva mengalami penurunan, hal ini sesuai dengan sebuah penelitian yang mengatakan bahwa secara umum asupan makanan dapat menurunkan level Ph. pada penelitian ini mencoba membandingkan pengaruh rasa asin dan asam terhadap produksi saliva. Hasilnya menunjukkan bahwa intake makanan yang mengandung asam terbukti menurunkan level pH. Saat nilai pH turun, muco-protein akan didenaturasi dan fungsi lubrikasi hilang karena tidak adanya asam sialin. Sedangkan bahan pemanis  mempunyai kemampuan untuk meningkatkan aliran saliva sehingga dapat meningkatkan pH saliva18.

Kemudian yang perlu diperhatikan lagi adalah perbedaan pH saliva pemakan pisang dan pemakan apel. Karena rasa pisang yang lebih manis dibandingkan apel, maka seharusnya terjadi peningkatan aliran saliva yang diikuti dengan kenaikan nilai pH nya. Hal ini berarti hasil praktikum tidak sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa makanan yang membutuhkan daya kunyah besar atau makanan yang rasanya cukup mencolok akan meningkatkan aliran saliva dan juga mengubah komposisinya4. Kesalahan ini dapat terjadi karena beberapa hal, seperti pembacaan ph-indicator yang salah, posisi probandus pemakan pisang tidak berdiri sewaktu akan mengeluarkan saliva (aliran saliva tidak maksimal), probandus baru saja makan (terjadi peningkatan pH sementara), ataupun variable lain yang tidak bisa dikendalikan.

KESIMPULAN

Stimulasi berkumur, makanan, dan sasam sitrun dapat meningkatkan volume sekresi saliva, sehingga aliran saliva yang distimulasipun meningkat dengan signifikan dibandingkan aliran saliva yang tidak distimulasi. Peningkatan aliran saliva diikuti dengan adanya kenaikan nilai pH nya. Aliran saliva maksimal dicapai saat saliva dirangsang dengan asam sitrun dan minimum pada rangsangan manis.

DAFTAR PUSTAKA

1 Edgar, W.M. Saliva:its secretion, composition and function. Br.Dent. J 1992; 172(8):305-12.

2 Humprey SP, Williamson RT. A Review of Saliva Normal Composition, Flow and Function. J Prosthet Dent 2001;85(2):162-169.

3 Angela, A. Primary prevention in children with high caries risk. Dent. J  2005; 38: 130–134

4 Roth, Gerald I & Calmes, Robert. 1985. Oral Biology. The C.V.Mosby Company : ST.Louis. Toronto, London. Halaman : 196-231

5 Bretz WA, Valle EV, Jacobson JJ, Marchi F, Mendes S, Nor JE et al. Unstimulated salivary flow rates of young children. Oral Surg Oral Med Oral Pathol Oral Radiol Endod 2001;91:541-5.

6 Kavanagh DA, O’Mullane DM, Smeeton N. Variation of salivary flow rate in adolescents. Arch Oral Biol 1998;43:347-52.

7 Amerongen, A.N., 1991, Ludah dan Kelenjar Ludah: Arti Penting bagi Kesehatan Gigi, Gadjah Mada University Press: Yogyakarta. Halaman : 6-22; 37-39

8 Torres S.R., Nucci, M., Milanos,E., Pereira R.P.,Massaud, A., Munhoz, T. Variations Of Salivary Flow Rates In Brazilian School Children. Braz Oral Res 2006;20(1):8-12

9 Gavião, Maria Beatriz D. & Bilt, Andries Van der.. Salivary Secretion And Chewing : Stimulatory Effects From Artificial And Natural Foods. Journal Of Applied Oral Science 2004; 12(2) : 159-163

10 Carter, K. 2008.The Effect of Smoking on Salivary Flow and Antioxidant Capacity. downloaded:http://iadr.confex.com/iadr/2008Toronto/techprogram/abstract_107797.htm , diakses : 4 maret 2010.

11 C. Fenoll-Palomares, J. V. Muñoz-Montagud, V. Sanchiz, B. Herreros, V. Hernández, M. Mínguez andA. Benages Unstimulated salivary flow rate, pH and buffer capacity of saliva in healthy volunteers. REV ESP ENFERM DIG (Madrid) 2004 ; 96. :773-783.

12 Engelen L, de Wijk RA, Prinz JF, van der BILT A, Bosman F.. The Relation Between Saliva Flow After Different Stimulations And The Perception Of Flavor And Texture Attributes In Custard Desserts. Physiology and Behaviour 2003; 78:165-169.

13 Gavião, M.B.D., Engelen, L., And Van Der Bilt, A. Chewing Behavior And Saliva Secretion. European Journal Of Oral Sciences 2004; 112: 19-24.

14 Lugaz O, Pillias AM, Boireau-Ducept N, and Faurion A. Time–Intensity Evaluation of Acid Taste in Subjects with Saliva High Flow and Low Flow Rates for Acids of Various Chemical Properties. Chemical Sense. 2005; 30(1) : 89-103.

15 Sulistiyani dan Pradopo, Seno. Rata-Rata Ph Saliva Setelah Minum Susu Sapi, Susu Kental Manis dan Susu Kedelai. Majalah Kedokteran Gigi 2003; 36: 1.

16 Preetha, A. and Banerjee, R. Comparison of Artificial Saliva Substitutes. Trends Biomater. Artif. Organs 2005;  18 (2): 178-186.

17 Byron J. BaileyJonas T. JohnsonShawn D. Newlands. 2006. Head and neck surgery—otolaryngology. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Page:522

18 Pratiwi., T. Sutadi, H.,  Mangundjaja, S., Apriati, Y. Pengaruh Sorbitol Dalam Permen Terhadap Populasi Streptococcus Mutans Dalam Saliva Majalah Kedokteran Gigi Dental Journal 2001; 34: 130–134

About these ads

Satu pemikiran pada “PENGARUH STIMULASI BERKUMUR, MENGUNYAH, DAN ASAM SITRUN TERHADAP SEKRESI & pH SALIVA

  1. assalamu’alaikum.terimaksih banyak,haturnuhun.berkat tulisannya saya akhirnya bisa dengan mudah menyusun tugas akhir.mudah2han bisa menjadi amal jariah di akhirat.amin….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s