PENUTUPAN CEIAH BIBIR DENGAN METODE MILLARD

Metode Millard pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli bedah yang bernama Millard (1960) Kelebihan utama dan metode ini ialah penempatan parut yang tinggi di bawah dasar hidung dan sepanjang garis filtrum sehingga memperkecil jarak penglihatan bekas jahitan (parut). Hal inilah yang menyebabkan metode ini banyak dipakai oleh para ahli bedah mulut dalam memperbaiki kelainan celah bibir.

 

TENNIK PENUTUPAN CEIAH BIBIR DENGAN METODE MILLARD

Tujuan utama penutupan celah bibir. baik celah bibir unilateral maupun celah bibir bilateral adalah mengembalikan anatomi normal. Arah penutupan celah bibir ini ada 2, yaitu mengembalikan estetika bibir sceara normal dan mengembalikan fungsi dan orbicularis oris

Terdapat bermacam-macam teknik penutupan celah bibir yang dapat dipakai, salah satunya dikenal dengari rotation-advancement repair. Teknik ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli bedah yang bernama Millard (1960). Adapun yang menjadi kelebihan dari teknik rotation-advancement repair ini adalah penempatan jahitan sepanjang garis filtrum dan dasar hidung sehingga terlihat Lebih natural

Pada teknik ini dilakukan pemindahan sebagiao daii Jan ngan lateral ke dacrah di bawah columella. schingga equids bow dapat sebanyak- banyaknya dipertahankan Teknik ini terutama digunakan pada celah bibir inkomplit yang lebar dan bibir yang tebal dengan batas mucocutaneous junction yang jelas.’

4,1 Teknik Perawatan

Teknik perawatan celah bibir dengan metode Millard sebagat beñkut :

  1. Menentukari titik tengah dan equids bow, kemudian titik puncak cupid’s bow dan sisi yang lunak
  2. Sebelum melakukan insisi maka dilakukan dulu pembuatan pola gainbar untuk rotasi dari sisi medial dan pola advancerneni dan sisi lateral dengan gentian violet
  3. Dacrah yang akan diincisi pada bibir kita anesiesi secara infiltrasi dengan memakai bahan anestesi Lokal ditambah dengan vaso konstriksi..
  4. insisi sesual dengan pola rotasi pada vermilion, sehingga equids bow akan terotasi kebawah, Insisi dibuat sedikit tegak lurus desigan mucocutaneous junction untuk menjaga kesembangan bibir. Jika ketika peinbuatan pola rotasi, garis berlanjut lurus ke tubercle vermilion tegak lurus dengan insisi pada 90 derajat ke mucocutaneous junction maka jaringan ikat yang pentrng akan hilang.
  5. Incisi lagi sesual dengan pola advancement pada sisi lateral
  6. incisi AB tcrletak pada, philtrume colummnela sedangkan Z plasti dan bagian atas tersembunyi pada lipatan dasar hidung
  7. Melakukan Penjahitan

Jahitan pada kulit tidak boleh terlalu ketat tetapi diharapkan  tepi kulit tidak dapat bergerak untuk menghindarkan parut bekas tusukan jarum setelah penyembuhan. Jahit lapis demi lapis, mukosa dengan mukoa, otot dengan otot. kulit dengan kuIit. Untuk otot dengan benang absorbel. mukosa dan kulit dengan henang non absorbel 3.0, 4.0, 5.0..

  1. Setelah selesai, kemudian luka ditutup dengan kasa yang lunak (selalu dibasahi dcngan larutan ringer/air garam fisiologis) dan kasa diganti setiap hari

Dresing dengan kasa basah ini bertujuan untuk menjaga jahitan tctap bersih dan mencegah terjadinya keropeng dan juga kekeringan dari sekresi hidung. juga depat dipakai dengan tule saja. Akhirnya dilapisi dengan plaster sambil membebaskan ketegangan pipi.

Tangan bayi harus diikat agar tidak bergerak dan tidak menarik serta menghapus luka. Jahitan pada kulit dan mukosa dibuka pada hari ke-5 untuk menghindarkan bekas jahitan. Kalau terlalu lama. maka bekas jahitan akan kelihatan dan kemungkinan terbentuknya parut lebih besar.

 

Keuntunan dari tekrnk ini adalah :

1. Jaringan parut yang terselubung

2 dasar lubang hidung yang terangkat

3. Mengembalikan dasar colummela dalam kedudukan yang benar, terutama di daerah celah

Dapus:

Hoffman, S., Wesser, D.R., Calostypis, f., Simon, B.e., The rotation-advancement technique (millard) as a secondary procedure in cleft lip deformities. http://digital.library.pitt.edu/c/cleftpalate/pdf/e20986v05n1.06.pdf

INTRODUKSI

a. Definisi

Suatu tindakan pembedahan dari labium atau bibir untuk memperbaiki bentuk dan fungsi.

b. Ruang Lingkup

Sumbing bibir unilateral

c. Indikasi Operasi

Untuk memperoleh bentuk wajah secara morfologi yang normal dan fungsi yang optimal untuk perkembangan pertumbuhan gigi geligi, mastikasi, pendengaran, pernapasan serta status psikososial.

d. Kontra Indikasi Operasi

Malnutrisi, anemia, dan kondisi pediatri lainnya yang dapat mengakibatkan pasien tidak mampu mentoleransi anastesia umum. Kelainan jantung yang menyertai harus dinilai terlebih dahulu sebelum dilakukan labioplasti.

e. Diagnosis banding (tidak ada)

f. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan darah perifer lengkap

Teknik Operasi

Pasien anak-anak perlu pembiusan umum dengan bantuan pipa endotrakeal. Pada pasien dewasa yang cukup kooperatif dapat dilakukan bius setempat.

Untuk meminimalisasi risiko anesthesia, waktu operasi yang optimal adalah setelah bayi berumur 3 bulan dengan berat badan minimal 5 kg.

Posisi pasien sedikit mendongak sehingga dataran yang akan dioperasi tegak lurus dengan garis pandangan mata operator.

Terdapat beberapa metode labioplasti diantaranya : teknik Rose-Thompson, teknik flap quadrangularis, teknik flap triangularis, teknik Millard dan takenik modifikasi Mohler. Namun yang paling umum digunakan adalah teknik Millard yang caranya didasari oleh gerakan memutar dan memajukan (rotation and advancement).

Teknik operasinya yaitu pertama dari sisi lateral, mukosa dikupas dari otot orbikularis oris.Kemudian otot orbikularis oris bagian merah bibir dipisahkan dari sisanya. Kulit dan subkutisdibebaskan dari otot orbikularis oris secara tajam, sampai kira-kira sulkus nasoabialis.Lepaskan mukosa bibir dari rahang pada lekuk pertemuannya, secukupnya. Kemudian otot dibebaskan dari mukosa hingga terbentuk 3 lapis flap : mukosa, otot dan kulit. Lalu pada sisi medial, mukosa dilepaskan dari otot. Dibuat flap C. Kemudian dibuat insisi 2 mm dari pinggir atap lubang hidung, bebaskan kulit dari mukosa dan tulang rawan alae, menggunakan gunting halus melengkung. Letak tulang rawan alae diperbaiki dengan tarikan jahitan yang dipasang ke kulit. Setelah jahitan terpasang, lekuk atap dan lengkung atas atap lubang hidung lebih simetris. Kolumela dengan rangka tulang rawan dan vomer yang miring dari depan ke belakang sulit diperbaiki, sehingga masih miring. Luka di pinggir dalam atap nares dijahit. Kemudian mukosa oral mulai dari kranial, menghubungkan sulkus ginggivo labialis. Jahitan diteruskan ke kaudal sampai ke dekat merah bibir. Setelah itu otot dijahit lapis demi lapis. Jahitan kulit dimulai dari titik yang perlu ditemukan yaitu ujung busur Cupido. Diteruskan ke atas dan ke mukosa bibir. Jaringan kulit atau mukosa yang berlebihan dapat dibuang. Sebaiknya luka operasi ditutup dengan tule yang mengandung bahan pencegah perlenngketan dan kasa lembab selama 1 hari, untuk menyerap rembesan darah/serum yang masih akan keluar. 1 hari sesudahnya baru luka dirawat terbuka dengan pemberian salep antibiotik.

Komplikasi Operasi

· Wound dehiscence paling sering terjadi akibat ketegangan yang berlebih dari tempat operasi

· Wound expansion juga merupakan akibat dari ketegangan yang berlebih. Bila hal ini terjadi, anak dibiarkan berkembang hingga tahap akhir dari rekonstruksi langitan, dimana pada saat tersebut perbaikan jaringan parut dapat dilakukan tanpa membutuhkan anestesi yang terpisah.

· Wound infection merupakan komplikasi yang cukup jarang terjadi karena wajah memiliki pasokan darah yang cukup besar. Hal ini dapat terjadi akibat kontaminasi pascaoperasi, trauma yang tak disengaja dari anak yang aktif dimana sensasi pada bibirnya dapat berkurang pascaoperasi, dan inflamasi lokal yang dapat terjadi akibat simpul yang terbenam.

· Malposisi Premaksilar seperti kemiringan atau retrusion, yang dapat terjadi setelah operasi.

· Whistle deformity merupakan defisiensi vermilion dan mungkin berhubungan dengan retraksi sepanjang garis koreksi bibir. Hal ini dapat dihindari dengan penggunaan total dari segmen lateral otot orbikularis.

· Abnormalitas atau asimetri tebal bibir Hal ini dapat dihindari dengan pengukuran intraoperatif yang tepat dari jarak anatomis yang penting lengkung

Mortalitas

(tidak ada)

Perawatan Pasca bedah

  • Pemberian makanan per-oral : Untuk anak-anak yang mengkonsumsi ASI, dapat terus disusui setelah operasi. Bagi anak-anak yang menggunakan botol, disarankan untuk menggunakan ujung kateter yang lunak selama 10 hari, baru dilanjutkan dengan penggunaan ujung dot yang biasa.
  • Aktivitas : Tidak ada batasan aktivitas tertentu yang perlu dilakukan, namun hendaknya aktivitas perlu diperhatikan untuk meminimalisasi risiko trauma pada luka operasi.
  • Perawatan bibir : Garis jahitan yang terpapar pada dasar hidung dan bibir dapat dibersihkan dengan kapas yang diberi larutan hidrogen peroksida dan salep antibiotika yang diberikan beberapa kali perhari. Jahitan dapat diangkat pada hari ke 5 -7.

Follow – up

Setelah operasi labioplasti, pasien harus dievaluasi secara periodik terutama status kebersihan mulut dan gigi, pendengaran dan kemampuan berbicara, dan juga keadaan psikososial

 

One thought on “PENUTUPAN CEIAH BIBIR DENGAN METODE MILLARD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s